Ayah, Hadirlah dalam Hidup Putrimu

Tulisan ini sambungan dari “Ketika Si Kecil Memanggilmu”

sofiadedi

Saya mengerti Sofia ingin main in-line skate. Ia bisa bermain dengan atau tanpa saya. Kalau bermain sendirian, ya, begitu, yang dimainkan hanya satu kaki saja. Pura-pura bisa. Itu, kan, main juga namanya.

Tapi saya juga mau merasakan keasyikan Sofia. Saya membantunya bermain in-line skate. Saya memegangi tubuhnya ketika kedua kakinya terbenam di dalam in-line skate kakaknya. Tidak ada in-line skate seukuran kaki anak dua tahun. Atau ada? Kalau ada, ya, saya tidak mau membelikannya. Sayang uangnya, soalnya pertumbuhan anak dua tahun, kan, cepat sekali. Nanti baru dipakai sebentar, sudah kekecilan. Hehe, alesan!

Setelah Sofia bosan bermain in-line skate dan lebih tertarik untuk melepas tali-talinya, memutar-mutar rodanya dengan tangan, dan membanting-bantingnya, saya memutuskan untuk membaca lagi buku Strong Fathers, Strong Daughters karya Meg Meeker. Isinya langsung membuat hati saya… nyesss. Di situ tertulis:

Pria yang baik: Kami membutuhkan Anda. Kami –ibu, anak perempuan, dan saudara perempuan – membutuhkan bantuan Anda untuk membesarkan perempuan muda yang sehat. Kami membutuhkan setiap keberanian dan kecerdasan maskulin Anda, karena ayah –lebih dari orang lain—sangat menentukan arah hidup anak perempuannya.

Putri Anda membutuhkan hal terbaik dari diri Anda: kekuatan, keberanian, dan kecerdasan Anda. Ia membutuhkan empati, ketegasan, dan kepercayaan diri Anda. Ia membutuhkan Anda.

Anak-anak perempuan kita membutuhkan dukungan yang hanya bisa diberikan oleh ayah –dan jika Anda bersedia membimbing putri Anda, berdiri di antara dirinya dan budaya berbisa, membawanya ke tempat yang lebih sehat, maka balasan yang akan Anda terima benar-benar tak tertandingi. Anda akan mendapatkan cinta dan kekaguman yang hanya bisa datang dari seorang anak perempuan. Anda akan merasa bangga, puas, dan senang yang belum pernah Anda rasakan sebelumnya.

Duh, Gustiii… tulisan itu benar adanya. Anak-anak butuh hal terbaik dari ayahnya. Lha, saya, apakah sudah menjadi ayah yang baik? T____T

Yang lebih bikin rembes lagi… itu, lho… anak-anak itu… belum lagi saya mampu memberikan hal terbaik untuk mereka, kok mereka sudah pol-polan memberi cintanya untuk saya? Ciuman yang tiba-tiba, pelukan yang erat, senyum dan tawa yang ceria… duh, duh, duh, gimana membalasnya coba?

Apalagi Sofia, kata-kata pertama yang bisa diucapkannya dengan jelas adalah… ayah! Sungguh, saya juga heran sendiri. Kok bisa-bisanya dia lebih fasih mengucapkan kata “ayah” daripada “mom”.

Setiap kali mulut mungilnya mengucap “Ayah”, rasanya hati saya langsung bergetar senang tak terkira. Panggilannya itu seperti alunan nada terindah dalam hidup. Saya seperti dipanggil mendekati surga ketika mendengar suaranya. Allah, indahnya….

###

Insya Allah bersambung ke “Maaf, Ini Cinta, Hukum Newton Minggir Dulu

2 Comments

  1. Pingback: Maaf, Ini cinta, Hukum Newton Minggir Dulu | Dedi Setiawan

  2. Pingback: Menjadi Orang Tua Bagi Semua AnakDedi Setiawan | Dedi Setiawan

Leave a Reply