Belajar dari Novel Milea: Begini Caranya Memperlakukan Perempuan

Pidi Baiq dan Vanesha Prescilla saat launching novel "Milea Suara dari Dilan", Sabtu (17/9), di Bandung
Pidi Baiq dan Vanesha Prescilla saat launching novel “Milea Suara dari Dilan”, Sabtu (17/9), di Bandung

 

Novel Milea Suara dari Dilan karya Pidi Baiq menceritakan kisah Milea dan Dilan. Secara garis besar, cerita dalam novel ini sama dengan dua novel sebelumnya, yaitu Dilan Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan Dia Adalah Dilanku Tahun 1991. Bedanya, dua novel sebelumnya menggunakan sudut pandang tokoh Milea, sedangkan novel ini meminjam sudut pandang tokoh Dilan.

 

Cerita bermula ketika Milea, murid pindahan dari Jakarta, menjadi magnet di sekolah barunya di Bandung. Dilan hadir untuk mendekati Milea dengan cara yang tak biasa. Hal-hal kecil yang dikemas Dilan secara unik rupanya menarik perhatian Milea. Mereka pun menjalani hari-hari bahagia penuh warna-warni. Tapi, warna kehidupan tak melulu cerah. Perbedaan pandangan tentang geng motor menjadi mendung yang membuat hari-hari mereka tampak kelabu.

 

Cerita yang garis besarnya sama itu, kemudian diolah dari sudut pandang yang berbeda. Inilah yang membuat novel ini tetap menarik dibaca. Pembaca diajak melihat suatu peristiwa dari sudut pandang yang berbeda.

 

Pidi Baiq saat launching novel "Milea Suara dari Dilan", Sabtu (17/9), di Bandung
Pidi Baiq saat launching novel “Milea Suara dari Dilan”, Sabtu (17/9), di Bandung

 

 

Pelajaran yang Terserak

 

Milea Suara dari Dilan termasuk karya populer. Membacanya dengan dahi mengernyit hanya akan mengurangi keasyikan dalam membacanya. Baca saja secara rileks, nikmati kisah-kisahnya, lalu tertawalah –kalau mau :p

 

Setelah membaca ketiga novel ini, saya pikir pesan terpenting dari novel ini tidak terletak pada kalimat-kalimatnya. Toh kalimat-kalimat yang ditulis oleh Pidi Baiq juga sulit diterima akal sehat hehe. Dia menggunakan EYS alias Ejaan yang Sesukanya. Mungkin editornya juga bingung, gimana ngedit naskah seperti ini? Karena ketika gaya bahasa lisan pada novel ini diubah menjadi gaya bahasa tulisan, maka segala kelucuannya akan hilang. Mungkin naskah seperti ini memang bukan untuk diedit, tapi untuk dibaca sambil santai 😀

 

Oiya, kembali ke pesan. Novel ini mengajak pembaca menyadari bahwa nilai dari suatu peristiwa bersifat relatif. Penilaian tentang baik-buruk suatu kejadian tergantung siapa yang memandangnya dan apa latar belakangnya. Maka merupakan suatu kesalahan besar ketika seseorang menghakimi orang lain tanpa klarifikasi (plus investigasi) terlebih dahulu.

 

Masalah yang timbul antara Milea dan Dilan juga disebabkan hal seperti itu. Prasangka yang dibiarkan tumbuh tanpa klarifikasi akhirnya menjelma dinding yang menjauhkan mereka. Sebuah harga yang mahal untuk membayar keegoisan.

 

Begitulah pesan terpenting dari novel ini. Kalau ada pesan-pesan lainnya, yang diambil dari potongan-potongan kalimat di novel ini, anggaplah sebagai bonus. Bonusnya memang cukup banyak, mulai dari menghormati orang tua, menghargai pertemanan, sampai cara memperlakukan perempuan, ada di novel ini.

 

Cover novel "Milea Suara dari Dilan"
Cover novel “Milea Suara dari Dilan”

 

Tentang cara memperlakukan perempuan mendapat porsi yang cukup besar di novel ini. Seolah Dilan menginspirasi para lelaki untuk memperlakukan perempuan secara istimewa. Kalau suka ke perempuan, jangan berusaha agar dia suka padamu, tapi berusahalah agar dia bahagia di dekatmu. Kalau suatu hubungan sudah berakhir, ya, sudah. Tidak perlu baper-baperan. Kalau mau balik lagi, silakan usahakan. Kalau tidak bisa balik lagi, maka lanjutkan hidup. Begitu, Mblo. #eh :p

 

 

Bandung Tahun ’90-an

 

Novel ini menggunakan setting Bandung tahun ’90-an. Beberapa hal yang berkaitan dengan Bandung di masa itu, seperti bioskop di Panti Karya, tempat nongkrong di daerah Cisangkuy, dan minuman merek Green Spot, dijadikan bagian dari cerita. Bahkan, Jalan Buah Batu yang masih berkabut dan tidak macet, berhasil memperkuat kesan romantis untuk kisah Milea dan Dilan.

 

Peristiwa penanda waktu juga ikut dicuplik dalam novel ini. Misalnya, ketika Dilan mengenang kisah Penembak Misterius (Petrus). Ini merupakan operasi rahasia pada masa Orde Baru untuk menghabisi orang-orang yang dianggap sebagai preman. Sebetulnya sekarang tidak rahasia lagi, karena Presiden Soeharto saat itu pernah memberi penjelasan tentang Petrus.

 

 

Akhirnya…

 

Jempol buat Pidi Baiq yang telah menulis novel ini. Setidaknya dia telah berusaha melakukan studi literasi, atau setidak-tidaknya memiliki ingatan yang bagus tentang Bandung di masa itu. Novel ini menawarkan hiburan sekaligus kesempatan untuk bernostalgia dengan masa lalu.

 

Kalau kamu nungguin contoh kisah novel, gak akan ada di tulisan ini hehe. Kamu mesti baca sendiri supaya bisa merasakan sendiri perasaan campur aduk ketika membaca kisah Milea dan Dilan. Kamu bisa beli di MizanStore untuk edisi cetaknya dan GooglePlay untuk edisi ebook.

 

Oiya, jangan beli yang bajakan. Kalau gak punya duit untuk beli, kamu bisa beli ke saya dengan harga berapapun. Saya punya satu eksemplar lagi yang masih mulus, masih diplastikin. Atau kamu bisa pinjam ke teman yang sudah punya hehe. Kalau bener-bener gak punya duit dan gak ada teman yang sudah punya, kamu boleh minta ke saya. Nanti kamu tinggal ganti ongkos kirim. Ok, gampang, kan? 😉

 

Data Buku:

Judul                    : Milea Suara dari Dilan

Penulis                 : Pidi Baiq

Cetakan                : Pertama, 2016

Penerbit               : Pastel Books

Halaman              : 360 halaman

 

 

9 Comments

  1. Ima

    Buku ini asik dibaca sama remaja, biar cintanya tidak menya menye, galau ga karuan. Hhehehee… Kalau buat ibu-ibu, mungkin banyak ilmu yang bisa diambil, yaitu tidak terlambat untuk menjadikan anak sebagai sahabat bicara yang asik. Karena saya suka banget sama karakter bunda-nya Dilan. Sukaaaaa…

Leave a Reply