Belajar dari Raden Sumatri: Bermain Jangan Berlebihan

Awalnya saya tidak memperhatikan ketika Aisyah bercerita. Saya pikir itu cerita karangannya saja. Tapi setelah saya dengar baik-baik, tahulah saya bahwa dia sedang menceritakan tentang Raden Sumantri.

Raden Sumantri mendapat tugas dari raja. Dia dititah untuk memindahkan Taman Sriwedari dari khayangan ke bumi. Sumantri memang sakti, tapi untuk urusan ini kesaktiannya menjadi tak berarti.

Untunglah dia memiliki adik yang, selain baik, juga sakti. Sukrosono namanya. Tugas kakaknya itu diambil alih oleh Sukrosono. Tugas tersebut sukses dijalankan.

Masalahnya, Sukrosono muncul saat keluarga istana sedang menikmati keindahan taman. Kehebohan terjadi. Orang-orang kaget dan takut, dan mungkin juga jijik, melihat Sukrosono yang secara fisik tidak sedap dipandang. Selama ini keberadaan Sukrosono memang disembunyikan oleh Sumantri.

Sumantri merasa malu. Perwira gagah kok punya adik buruk rupa. Dia menyuruh adiknya pergi.

Sukrosono menolak. Dia kangen kepada kakaknya. Sudah lama dia menahan keinginan untuk bermain bersama.

Sumantri kesal. Dia menakut-nakuti adiknya. Sayang, dia memilih cara yang… ekstrem. Dia membidikkan anak panah ke arah adiknya.

Apa yang terjadi kemudian?

Anak panah terlepas. Tentu tak disengaja. Sumantri kaget. Tapi, kekagetan tidak mengubah keadaan. Anak panah itu menembus jantung. Sukrosono pergi untuk selamanya.

Belajar dari Raden Sumantri

Apa yang bisa dipelajari dari kisah Raden Sumantri dan Sukrosono? Tentu banyak. Salah satunya disebutkan oleh Aisyah: jangan main berlebihan!

By the way, saya juga gak menyangka Aisyah masih mengingat kisah itu. Saya menceritakannya, sebenarnya kepada kakaknya, kira-kira setahun lalu. Saat itu kami sedang membaca puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Pesan”. Puisi ini memang berkisah tentang Raden Sumantri.

Leave a Reply