Burjo Plus-Plus

Braga yg masih pagi. Sy duduk di salah satu bangkunya. Sambil menikmati bubur kacang ijo (burjo) yg baru saja dihidangkan A’ Gugun.

 

A’ Gugun ini aslinya orang Sumedang. Anak istrinya di Tasik. Dan dia mencari nafkah dengan gerobak kacang ijonya di Bandung. Tepatnya di jalan Braga, di sekitar gedung cagar budaya yang dulu bernama De Eerste Nederlandsch-Indische Spaarkas en Hypotheekbank (DENIS). Well, perjuangan hidup.

 

“Gimana dagangan, A’?” Buka sy.

 

“Alhamdulillah, dagangan selalu habis. Biasanya sebelum jam 10,” jawabnya.

 

“Alhamdulillah, ya, A’.”

 

“Kalau ada rahasianya… Ya mungkin krn sy berusaha berbagi, A’. Kalau sy pulang ke Tasik, sy biasanya menyiapkan uang di kantong. Kalau ada orang jompo, apalagi anak yatim, ya saya kasih. Enggak gede, A’. Ya, tapi ngasih aja.”

 

“Aa’ berbagi setiap hari?” Kejar saya.

 

“Ya, ga harus uang, A’. Kadang2 bubur. Bervariasi. Spy orang yg dikasih jg enggak bergantung ke kita,” jelasnya.

 

A’ Gugun yang polos dan baik hati. Sy pandangi wajahnya. Tergambar memang dia hanya ingin bercerita. Tidak ada yg dilebih2kan. Ah, pastilah dia tidak tahu kalau saya sedang belajar darinya. Saya menikmati cerita2nya, sama seperti sy menikmati bubur kacang ijo buatannya.

 

Dari A’ Gugun sy belajar suatu siklus sederhana: berbagi dan rejeki. Kalau kamu berbagi, maka akan ada rejeki lain sebagai gantinya. Dg kata lain, kalau mau rejekinya lancar, ya terus berbagi setiap hari.

 

Ya, ini senada dengan hadist yg menerangkan bahwa setiap pagi ada dua malaikat turun ke bumi. Satu malaikat berdoa, “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yg berinfaq.” Dan yg satunya lg berkata, “Ya Allah, hancurkanlah harta orang yg pelit.”

 

Dari A’ Gugun sy belajar ttg semangat berbagi. Berbagi ketika banyak uang? Enggak. Berbagi setiap hari, baik di saat dagangan laris, maupun saat dagangan belum habis sampai siang. Berbagi sejak sekarang, tidak perlu menunggu kaya.

 

“Ngadagoan senang karek mere, nya keur naon? Bungah henteu, mere oge henteu. Mending ayeuna, boga sauetik, tp tetep merean,” ungkapnya.

 

Benar juga kata A’ Gugun. Menunggu hidup senang dan kaya baru mau berbagi? Ya untuk apa? Hidup senang juga belum tentu. Berbagi juga belum tentu. Mending sekarang kalau mau berbagi. Meski punya sedikit, tapi tetap berusaha berbagi.

Wallahu a’lam.

One Comment

  1. Pingback: Kemampuan Memberi Ala Google | Dedi Setiawan

Leave a Reply