Di Bawah Lindungan Ka’bah, Cinta Pun Merekah

Suatu hari Zainab disuruh ibunya memanggil seorang anak yang berjualan pisang goreng, “Panggillah, Nab, kasian juga awak!”

Setelah mendekat, barulah diketahui bahwa anak itu bernama Hamid. Dia seorang yatim. Dia berjualan untuk membantu ibunya.

Hal tersebut membuat ibunya Zainab merasa kasihan. Dia meminta Hamid untuk datang lagi bersama ibunya. Itulah awal kedekatan keluarga Zainab dan keluarga Hamid.

Kedekatan itu membuat Hamid memiliki kesempatan untuk berkembang. Haji Ja’far, ayah Zainab, merupakan pengusaha kaya. Dia meminta Hamid menemani Zainab bersekolah. Dia menyekolahkan keduanya dari tingkat dasar, Hollands Inlandsche School (HIS), sampai tingkat menengah, Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).

Setamat MULO, Zainab dan Hamid berpisah jalan. Zainab memasuki masa pingitan, sedangkan Hamid melanjutkan sekolah agama ke Padang Panjang. Zainab tak bebas lagi keluar rumah sampai nanti bersuami. Hamid sendiri baru pulang kampung ketika liburan sekolah.

Perpisahaan itu membuat mereka merasa tak utuh. Sepertinya telah tumbuh sesuatu di hati mereka. Namun, apa? Mereka masih remaja. Belum pandai mendefinisikan rasa.

Belajar dari Di Bawah Lindungan Ka’bah

Inilah kisah Zainab dan Hamid yang sama-sama memendam rasa. Memang, pada akhirnya mereka menyadari bahwa mereka saling mencinta. Namun, saat itulah cinta mereka menemui rintangan. Kisah mereka menyadarkan kita bahwa cinta tak melulu menghadirkan bahagia, tapi juga luka.

Pada novel ini, secara jitu Buya Hamka menggambarkan perasaan orang yang sedang jatuh cinta. Ingin bertemu, tetapi malu. Tak berjumpa, tetapi rindu. Rindu dianggap sebagai perasaan yang menyiksa, sekaligus menyenangkan –sehingga dijaga supaya tidak hilang. Begini gambarannya:

“… saya percaya bahwa dia ingat kepadaku sebagaimana saya ingat kepadanya, entah agaknya menggantang-gantang asap. Tidak saya percaya, hati saya bertambah luka. Saya tahu, mengingati orang jauh itu suatu penyakit, tetapi saya pun takut penyakit itu akan hilang dari hati… aduh, Gusti Allah!”

Logika dalam novel ini juga terjaga dengan baik. Misalnya, saat Hamid diminta untuk membujuk Zainab menerima perjodohan dengan orang lain. Tugas itu tidak mungkin ditolak karena dia memiliki utang budi kepada keluarga Zainab. Dia juga sudah dianggap sebagai kakak sehingga merasa canggung jika harus mengungkapkan perasaannya.

Kisah Zainab dan Hamid menyemangati kita untuk menjaga kesucian cinta. Kesucian itu hendaknya tetap dijaga, baik dalam keadaan suka maupun duka. Karena bagi mereka yang saling mencinta, terjaganya kesucian cinta memang membuat bahagia –pada akhirnya.

Data Buku

Judul                  : Di Bawah Lindungan Ka’bah

Penulis               : Hamka

Penerbit             : Bulan Bintang

Cetakan             : 32 / Maret 2012

ISBN                   : 979-418-063-7

Halaman            : 72 halaman

2 Comments

  1. Pingback: Hamka, Konsistensi yang Menginspirasi – Dedi Setiawan

Leave a Reply to Maz Guru | Belajar Menulis Cancel reply