Doa Akeket dari Kitab Sang Kiai

kitabkitab

 

 

Ketika sedang memberesi kitab-kitab KH. Moh. Khalil, seorang khaddam (pelayan) menemukan tulisan Arab di salah satu halaman kitab. Khaddam itu mencoba membacanya, “Doa akeket.”

 

Khaddam itu sumringah. Akeket, dalam bahasa Madura berarti berkelahi. Dia merasa menemukan doa yang berguna untuk kehidupannya. Doa itu dia hafalkan. Lalu dia menunggu-menunggu saatnya doa itu untuk diamalkan.

 

Suatu hari khaddam itu cekcok dengan pengurus pondok. Kalau terjadi perselisihan, biasanya khaddam itu selalu mengalah. Wajar, badannya kurus. Mana berani dia melawan pengurus pondok yang lebih besar.

 

Tapi kali ini berbeda. Setelah komat-kamit, khaddam itu bersiap berkelahi dengan pengurus pondok. Di luar dugaan, ternyata dia itu memenangkan pertarungan.

 

Besok-besoknya, banyak yang santri yang ingin menjajal kekuatan khaddam tersebut. Kejadiannya berulang: khaddam komat-kamit, berkelahi, lalu menjadi pemenang. Kabar ini menyebar ke seantero pesantren, termasuk ke Kiai Khalil.

 

Mungkin penasaran, Kiai Khalil bertanya ke khaddam-nya, “Saya dengar kamu selalu menang berkelahi.”

“Barokahnya kitab Kiai,” khaddam merendah.

“Mengapa begitu?”

“Saya mendapat doa berkelahi dari kitab Kiai.”

“Coba saya mau lihat.”

“Ini, Kiai,” khaddam menunjukkan kitab tempat doa akeket berada.

Kiai Khalil mengambil kitab yang disodorkan khaddam, lalu berkata, “Ooo, ini doa aqiqah, bukan akeket.”

 

***

 

Hehe, piye, Jal? Kalau kamu berada di posisi khaddam-nya Kiai Khalil, apa yang kamu rasakan? Malu? Tengsin? Cengar-cengir? Kalau aku, sih, yes!

 

Terlepas dari apapun yang dirasakan oleh khaddam, dia mengajarkan tentang keyakinan kepada kita. Sebuah keyakinan ternyata mempengaruhi cerita hidup. Semakin baik suatu keyakinan, semakin besar untuk hidup lebih baik.

 

Bung Karno
Bung Karno

 

Mungkin itu juga yang terjadi pada hidup Bung Karno. Sejak kecil dia diyakinkan oleh ibunya bahwa dia akan menjadi orang besar. Di suatu pagi, sambil memeluk Sukarno yang masih kecil, ibunya berkata, “Anakku, engkau sedang memandangi matahari terbit. Dan engkau, anakku, kelak akan menjadi orang yang mulia, pemimpin besar dari rakyatmu, karena ibu melahirkanmu di saat fajar menyingsing. Kita orang Jawa memiliki suatu kepercayaan, bahwa seseorang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah digariskan sebelumnya. Jangan sekali-kali kau lupakan, Nak, bahwa engkau ini putra sang fajar.”

 

Sukarno tumbuh bersama keyakinan yang ditanamkan oleh ibunya. Bertahun-tahun kemudian, nasib memanggilnya ke alam perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia. Dia menyambut panggilan itu, dan menjadi salah satu tokoh penting bagi republik ini. Dia, seperti yang bertahun-tahun dulu dikatakan ibunya, menjadi pemimpin besar bagi rakyatnya.

 

Ya, sekali lagi, keyakinan yang baik ternyata membuat kita bergerak ke arah yang lebih baik. Lantas, sudahkah kita memilikinya?

Leave a Reply