Gaya Hidup Minimalis Bikin Hidup Lebih Manis

 

Tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, edisi Senin, 2 Desember 2019

Mari pikirkan tentang besarnya energi untuk suatu barang. Mulai dari rencana memilikinya, membaca ulasan, mencari diskon, hingga membelinya. Perawatan beberapa barang bahkan menyita waktu akhir pekan kita. Ketika merasa bosan, kita akan mencari barang baru. Siklus ini terus terulang. Semakin banyak barang, semakin banyak tenaga yang dibutuhkan.

 

Jika kita merasa lelah dan selalu kekurangan waktu, bisa jadi barang-barang itulah penyebabnya. Coba cek lagi barang-barang di rumah. Berapa banyak barang yang menanti untuk dipakai, tapi ternyata tidak pernah dipakai? Berapa banyak barang yang menyebabkan kesan sesak dan semrawut? Jika cukup banyak, inilah saatnya berbenah dengan menerapkan gaya hidup minimalis.

 

Secara garis besar, gaya hidup minimalis menuntun kita untuk melakukan dua hal. Pertama, memastikan semua barang yang kita miliki memang berguna. Kedua, menjaga barang berada di tempatnya dan dalam keadaan siap digunakan. Kedua hal tersebut bisa dimulai dengan membenahi cara pandang tentang barang.

 

Tentu tidak mudah menjadi orang yang minimalis di dunia media massa. Iklan-iklan menghujani kita tanpa henti, menyampaikan bahwa sukses diukur dari barang yang kita miliki. Seolah-olah semakin banyak barang, maka akan semakin bahagia. Padahal, semakin banyak barang, semakin repotlah kita, bahkan semakin banyak pula utang kita. (hal 11)

 

Sebagai latihan untuk mengurangi barang, bayangkan bahwa kita akan pindah ke negara lain. Kepindahan ini bersifat permanen sehingga kita harus memilih barang yang benar-benar penting. Ini melatih kita untuk lebih selektif memilih barang. Kalau suatu barang tidak akan kita bawa pergi dan gunakan, maka sebaiknya barang itu kita keluarkan dari rumah.

 

 

Buku ini juga membahas teknik menjaga kerapian rumah. Salah satunya dengan menerapkan peraturan bahwa permukaan datar bukanlah tempat menyimpan sembarang barang. Secara alamiah, permukaan datar bersifat “lengket”. Begitu ada satu barang di situ, biasanya barang itu tetap di sana selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Setelah itu akan menyusul barang-barang lainnya. Permukaan yang mulanya rata dan halus berubah menjadi permukaan naik turun yang dibentuk oleh berbagai barang yang “terjebak” di sana. (hal 71)

 

Menurut Francine Jay, gaya hidup minimalis mendatangkan banyak keuntungan. Orang yang menjalankannya akan memiliki ruang untuk berkreasi dan merasa bahagia. Mereka punya kesempatan lebih banyak untuk berinteraksi dengan anggota keluarga dan masyarakat.

 

Selain itu, ada hal-hal luar biasa yang timbul dengan menjadi minimalis. Setiap kali menahan diri untuk tidak membeli sesuatu hanya karena iseng dan memutuskan menggunakan barang yang sudah ada, berarti kita memberikan sumbangsih pada bumi. Udara menjadi sedikit lebih bersih, air sedikit lebih jernih, hutan sedikit lebih lebat, dan lahan-lahan pembuangan sampah sedikit lebih kosong. (hal 239). Semakin banyak orang yang menerapkan gaya hidup minimalis, maka semakin manis kehidupan di bumi ini.

 

Dedi Setiawan

 

 

Data Buku

Judul buku           : Seni Hidup Minimalis

Penulis  buku     : Francine Jay

Tahun terbit        : Januari 2019

Harga                   : 88.000

Tebal                    : 260 + xiii halaman

Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama

ISBN                     : 978-602-03-9844-0

Leave a Reply