Ikut-Ikutan dalam Keburukan itu Menggelikan

membebek pada keburukan

Saya selalu merasa… emmm, apa ya, miris sekaligus geli(?), melihat orang yang ikut-ikutan dalam keburukan, lalu merasa bangga dengan keikut-ikutannya itu. Asli, menggelikan!

Misalnya mereka yang ikut-ikutan seolah-olah tidak percaya Tuhan. Ya, seolah-olah, karena anak-anak muda yang cuma ikut-ikutan itu sebenarnya masih percaya Tuhan –setidak-tidaknya, mereka tidak berani terang-terangan mengaku tidak ber-Tuhan. Bisanya cuma ikut-ikutan logika pentolannya.

Kalau pentolannya ngomong, “Tuhan, aku ketinggalan tas, kalau memang Engkau Maha Kuasa, bisa ga ambilin tas aku sekarang?”.

Yaaa, kira-kira anak-anak muda yang cuma ikut-ikutan itu bakal ngomong, “Tuhan, aku ketinggalan pensil. Kalau Engkau Maha Kuasa, bisa ga ngambilin pensil aku sekarang?”

Gimana, Lur, geli gak lihat ikut-ikutan seperti ini? 😀

Atau kalau pentolannya bilang, “Ah, kisah negeri sodom cuma dongeng. Klo memang benar, kenapa dunia tidak dihancurkan?”

Yaaa, paling anak-anak muda yang cuma ikut-ikutan itu bakal bilang, “Kok Amerika yang melegalkan LGBT itu belum dimusnahkan, ya?”

Gimana, bro, gelinya dobel gak? 😀

Ya, ikut-ikutan dalam keburukan tidak akan membuat seseorang tampak keren. Tidak akan. Tampak aneh, bisa jadi. Tampak kuper (kurang pergaulan –red), ya, gitu, deh. Tampak menggelikan, pastinya.

Makanya, mulai sekarang, kalau ada anak muda yang bisanya cuma ikut-ikutan dalam keburukan, tidak usah dikomentari macam-macam. Mereka memang sedang mencari perhatian. Tidak perlu didebat, karena… apa sih hebatnya menang argumen dengan orang yang bisanya cuma ikut-ikutan? Nah, sebagai gantinya, karena mereka memang menggelikan, mulailah  ber-haha-hihi. Level mereka memang baru pantas di-haha-hihi-kan saja. Tidak lebih.

One Comment

Leave a Reply