Ketika Mantan Pegulat di Pasar Ukaz Itu Mendapat Gelar Al-Faruq

Sejak awal masuk Islam, Umar bin Khattab sudah yakin bahwa agamanya akan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Dia yakin bahwa Islam akan mewarnai peradaban manusia di timur dan barat.

 

Tapi kondisi Islam hari itu benar-benar mengganggu nalar mantan pegulat di pasar Ukaz itu. Bagaimana mungkin Islam yang dia yakini akan tersiar ke suluruh dunia, ternyata ibadahnya dijalankan secara sembunyi-sembunyi? Bagaimana mungkin Islam yang akan menjadi soko guru peradaban, ternyata para pemeluknya menjalankan ibadah dengan perasaan tertekan? Haruskah mereka tetap tiarap ketika agama yang diyakini kebenarannya itu dinista oleh orang lain?

 

umarbinkhattab

 

Maka Umar bertanya kepada junjungan nan mulia, “Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di atas kebenaran, mati maupun hidup?”

“Tentu, wahai Umar. Demi Zat yang jiwaku berada di genggaman-Nya, sesungguhnya kalian benar-benar berada di atas kebenaran, hidup maupun mati,” pemimpin kaum muslimin itu mengonfirmasi.

“Lalu mengapa kita masih sembunyi-sembunyi? Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, engkau pasti akan keluar bersama kami,” mantap Umar berucap.

 

Setelah itu, Rasulullah keluar bersama kaum muslimin dalam dua barisan. Satu barisan dipimpin oleh Hamzah, satu barisan lagi dipimpin oleh Umar. Parade kaum muslimin itu memasuki Masjidil Haram dengan gagah perkasa. Pandangan Umar menyapu wajah-wajah sedih penduduk Quraisy. Saat itulah Rasulullah memberi gelar Al-Faruq kepada Umar. Al-Faruq berarti orang yang memisahkan antara yang haq dan yang batil.

 

Umar telah menjemput takdirnya. Dia yang awalnya menghunus pedang untuk menghabisi Rasulullah, luluh atas perkenan Allah setelah membaca surat Thaha: Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al-Quran ini kepadamu agar engkau menjadi susah. Melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah…. Dia yang pada awal keislamannya menginspriasi gempita parade kaum muslimin, ternyata juga ikhlas berjalan dalam senyap malam untuk mengetahui keadaan rakyatnya ketika menjabat sebagai khalifah.

 

Ya, Umar telah menjemput takdirnya. Dia kokoh ketika berada dalam kerumuman, juga tetap tegak berdiri dalam sepi. Lantas, bagaimana dengan kita?

2 Comments

Leave a Reply