Menerbangkan Doa-Doa

Aslinya manusia memang lemah, tukang mengeluh, dan suka misuh-misuh. Telat makan dikit, langsung gemetar. Jalanan macet, langsung ngeluh seolah sedang menempuh perjalanan 7 tahun cahaya. Koneksi internet ngadat, langsung bete. Beban kerja bertambah, langsung pusing kepala (ini kepala orang lho, bukan kepala Barbie :p )

Tapi ini juga ironinya: kita lemah, tapi malas meminta supaya kuat; kita tidak ingin terhambat, tapi tidak sempat memohon supaya segala urusan lancar; kita tidak ingin sedih, tapi enggan memohon bahagia; kita banyak kesulitan, tapi ogah berdoa supaya dimudahkan; kita tidak ingin masuk neraka, tapi juga sering lupa meminta masuk surga. Eh, kapan terakhir kali menyelipkan kata “surga” di dalam doa? 😉

berdoa

Lha, kalau memang manusia itu lemah, tukang ngeluh, dan suka misuh-misuh, lantas yang terlihat saat kita tampil gagah, itu siapa? Yang terlihat ketika kita tampil berwibawa, itu siapa? Yang terlihat saat kita tersenyum bahagia, itu siapa? Semua yang sedap dipandang itu, sebenarnya itu kita atau bukan?

Ya, itu juga diri kita. Yang gagah, yang berwibawa, yang bahagia, itu juga diri kita. Itu diri kita yang diberi nikmat oleh Allah. Harap dicatat, hanya karena karunia dari Allah kita bisa merasa lapang, senang, dan selamat.

Nah, ketika menyadari bahwa hidup memang sepenuhnya bergantung pada Allah, maka sudah seharusnya kita memperbanyak doa. Inventaris doa kita harus lebih banyak lagi. Doa itu seperti perisai. Semakin sedikit doa kita, semakin lemah pertahanan kita. Makanya, yuk, kita perbanyak menerbangkan doa-doa –di banyak kesempatan, di banyak aktivitas. Semoga Allah berkenan menolong, melindungi, dan mengabulkan doa-doa kita. Aamiin.

One Comment

Leave a Reply