Menggapai Cita Tertinggi

Seorang teman melempar diskusi di grup Whatsapp, “Bolehkah kita punya cita-cita tinggi? Bagaimana kalau kita tidak dapat menggapainya dan akhirnya kecewa? Apa yang salah dengan mimpi itu?”

Hmm, tema klasik. Tapi uniknya, tema ini selalu penting untuk di bahas. Kapanpun!

Sama sekali tidak ada yang salah dengan cita-cita yang tinggi. Bebaskan imajinasi kita. Liarkan mimpi-mimpi kita. Bercita-citalah yang tinggi, bahkan sampai menembus awan dan menyundul bintang-bintang.

menggapai cita

Kita manusia, dengan segala potensi yang Allah berikan untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik, memang seharusnya punya cita-cita tinggi, punya impian besar. Dengan semua potensi yang kita miliki, menurut saya, pertanyannya justru harus dibalik: Wajarkah bila kita bercita-cita menjadi kerdil?

Mungkin ada yang menimpali, “Ah, saya, mah, mau hidup biasa-biasa saja. Cita-cita juga tidak usah tinggi-tinggi. Yang penting masuk surga.” Ya, saya tidak mau berdebat dengan orang yang punya pendirian seperti itu. Hanya saja, kok, ya, sayang kalau cita-cita dibatasi hanya untuk kehidupan dunia. Seolah-olah kalau bicara tentang cita-cita, berarti berbicara tentang kekayaan dunia. Seolah-olah cita-cita dunia dan akhirat itu tidak bisa disatukan. Ah, masa, iya?

Saya tidak menolak bahwa cita-cita itu bisa berarti punya 10 rumah, punya 100 mobil mewah, punya 1000 ruko, punya 1000 triliyun uang, dan seterusnya. Tapi, apa pembicaraan tentang cita-cita mesti berhenti di tema itu? Memangnya tidak boleh bercita-cita jadi orang kaya yang juga berpeluang masuk surga?

Bagaimana kalau kita punya cita-cita menjadi orang kaya yang hafidz Quran, setiap hari sedekah 1-10 juta, punya apartemen untuk memelihara 1000 anak yatim, dan punya banyak bidang usaha yang bisa menjadi jalan rejeki bagi 1 juta orang? Bagaimana, boleh? 🙂

Ya, bercita-cita itu memang tak perlu tanggung. Karena dengan segala potensi yang kita miliki, sudah seharusnya kita mencita-citakan sesuatu yang besar. Sesuatu yang besar, bukan saja bernilai bagi diri sendiri, tapi juga bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang. Karena dengan begitu, kita bisa mempertanggungjawabkan potensi yang telah Allah titipkan. Wallahu a’lam.

Note: Insya Allah akan ada tulisan selanjutnya tentang cita-cita.

2 Comments

  1. Pingback: Belenggu Itu Bernama Penjara Pikiran |

Leave a Reply