Menjadi Muslim, Menjadi Orang Indonesia yang Baik

 

*Tulisan ini dimuat di Karepe.com pada Kamis, 30 Agustus 2018

 

Idealnya, menjadi orang Indonesia yang baik bukanlah sesuatu yang sulit diwujudkan bagi seorang muslim. Ini seperti perjalanan dari Bandung menuju Jakarta. Di tengah jalan, ada penumpang yang mau mampir di Purwakarta. Jalannya sama, arahnya sama. Tentu permintaan itu tidak sulit untuk dikabulkan, kan?

 

Begitu juga dengan menjadi orang Indonesia yang baik bagi seorang muslim. Islam mengajarkan pemeluknya menjadi rahmat bagi semesta alam –termasuk Indonesia. Dengan banyaknya jumlah muslim di Indonesia, maka mestinya semakin melimpah rahmat bagi Indonesia. Itulah salah satu optimisme yang muncul dari buku Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia karya Kuntowijoyo.

 

Ide-ide yang ditulis sekitar tahun 80-an oleh sejarawan cum sastrawan kelahiran Yogyakarta, 18 September 1943, itu menarik untuk dibaca. Dia tidak hanya menawarkan arah, tapi juga memaparkan sejarah. Jika melalui gagasan dia membuat pembacanya membayangkan tercapainya kejayaan negeri melalui konsep Islam, maka melalui sejarah dia memberi pijakan yang kokoh agar tak goyah.

 

Mari ambil contoh topik yang belakangan mulai didengungkan lagi, yaitu toleransi. Seolah-olah itu merupakan pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Padahal, umat Islam Indonesia punya sejarah panjang tentang kesuksesan bertoleransi. Asal bukan hal-hal yang prinsip, segala sesuatunya bisa dikomunikasikan dan disesuaikan dengan kebutuhan.

 

Pada esai “Sikap Optimis Menghadapi Masa Depan”, Kunto menulis:

 

“Berbeda dengan agama-agama lain, Islam masuk ke Indonesia dengan cara yang elastis. Masjid-masjid pertama di Indonesia bentuknya menyerupai arsitektur lokal, warisan dari Hindu. Ini berbeda dengan Kristen misalnya yang membikin gereja di sini dengan arsitektur asing, arsitektur Barat. Kasus ini memperlihatkan bahwa Islam lebih toleran terhadap budaya lokal. Budha masuk ke Indonesia dengan membawa stupa, demikian juga Hindu. Islam sementara itu tidak memindahkan simbol-simbol budaya Islam di Timur Tengah ke sini. Hanya akhir-akhir ini saja bentuk Kubah di-adopt.”

 

 

Masih di esai yang sama, dia mengambil contoh kesenian:

 

Ciri kesenian Islam di Timur Tengah mencerminkan semangat yang mobil dan aktif. Lihat saja kaligrafi-kaligrafinya yang penuh dan semarak. Ini menunjukkan semangat yang aktif, yang mengisi ruangan. Sampai di Indonesia, ekspresi kesenian Islam menjadi lain. Coba bandingkan antara musik Arab –kalau itu bisa disebut musik Islam – dengan gamelan sekaten (yang merupakan gamelan untuk memperingati lahirnya nabi versi Sunan Kalijaga). Musik Arab terlihat penuh semangat, mempunyai “tone” yang naik turun, cepat dan dinamis. Semangat ini tidak ditemukan dalam irama gamelan sekaten yang tenang dan kontemplatif. Di dalam seni gamelan sekaten, unsur sunyi –bukan hanya bunyi – sudah menjadi bagian integral dari musik. Jadi, dari musik demikian, di Indonesia secara kultural Islam berubah dari budaya kota, budaya kelas pedagang dan kelas menengah yang mobil dan dinamis, menjadi budaya desa, agraris, dan statis. (hal. 16)

 

Perhatikan, betapa umat Islam bisa bermain cantik di tengah masyarakat yang bhinneka. Bentuk tempat ibadahnya tidak masalah, karena yang penting adalah mendirikan salatnya. Jenis keseniannya tidak jadi soal, karena yang penting adalah muatannya. Isi lebih penting daripada bungkus.

 

Setelah Islam diterima dengan baik oleh masyarakat, barulah muncul simbol-simbol Islam. Kalau masyarakat belum menerima, ya, tidak boleh – dan memang tidak perlu – ada paksaan. Itu artinya umat Islam harus lebih cerdas dalam berdakwah dan bersabar menjalani proses adaptasi.

 

Dalam kerangka berpikir seperti itulah berlaku ungkapan “Small is beautiful, big is powerful”. Dengan tanpa meninggalkan keindahan akhlak saat masih minoritas, umat Islam harus lebih berperan dalam memajukan bangsa saat jumlahnya menjadi mayoritas. Kalau sebelumnya kita melihat contoh strategi umat Islam ketika masih sedikit, sekarang kita akan membahas gagasan ketika jumlah umat Islam semakin banyak.

 

Dalam buku yang sampulnya didominasi warna hijau ini, umat islam setidaknya bisa menyumbang tiga hal. Ketiganya adalah kepemimpinan, intelektualitas, dan gerakan sosial. Ketiganya saling berhubungan.

 

Doktor jebolan Universitas Columbia itu menangkap perubahan konsep kepemimpinan. Saat ini konsepnya berkembang ke arah diversifikasi (penganekaraman), desentralisasi (perluasan), dan proliferasi (penyebaran) kepemimpinan. Dengan demikian, kepemimpinan tunggal bukan segala-galanya. Pada masyarakat majemuk di zaman yang semakin global, yang diperlukan adalah banyak pemimpin untuk menangani banyak masalah.

 

Image bahwa kekuasaan itu begitu sentral, harus kita kurangi. Karena ternyata sekarang ini, di dalam politik pun, yang berkuasa bukan penguasa, melainkan kekuatan-kekuatan lain seperti kekuatan bisnis, kekuatan budaya –dalam arti cita-cita sekularisme –, dan sebagainya. … Kekuasaan hanya merupakan sarana pelayanan kepentingan suatu lapisan yang berusaha mentransformasikan masyarakat Indonesia sesuai dengan kepentingan-kepentingan mereka, entah kepentingan ekonomi, kepentingan budaya, dan lain sebagainya. (hal. 132)

 

Dengan memecah bidang kontribusi menjadi bagian yang lebih kecil, Kunto mengajak umat Islam mengeluarkan ide terbaik di bidang-bidang yang lebih spesifik. Di sinilah umat Islam harus menunjukkan kualitas intelektualitasnya. Pada ranah perjuangan yang semakin luas inilah kecendekiaan para cendekiawan Muslim diuji.

 

Pada akhirnya, umat Islam dibimbing untuk bisa berkontribusi menciptakan struktur sosial yang lebih baik. Jihadnya umat Islam dalam kondisi  yang damai adalah berjuang mengatur kembali struktur sosial dari, meminjam istilah dalam ilmu-ilmu sosial, superstruktur yang terlanjur terbentuk. Wilayah tempurnya berubah dari medan perang penuh darah menjadi dunia simbolik: imajinasi, ideologi, dunia budaya, dunia berpikir, dan dunia-dunia immateri.

 

Hal tersebut tidak mengurangi ajaran Islam sama sekali. Umat Islam, sebagaimana dikatakan dalam Al-Quran, tetap menjadi umat terbaik ketika memenuhi syarat-syaratnya. Nabi pun sudah pernah mencotohkannya. Beliau mengubah superstruktur (budaya musyrik, politeis diubah menjadi budaya-budaya tauhid, monoteis) dan mengatur kembali struktur sosial (mengangkat derajat wanita dan kaum budak pada kedudukan yang mulia).

 

Penulis Khotbah di Atas Bukit itu percaya bahwa perjuangan tersebut harus dimulai dari masjid. Tentu bukan masjid kekinian yang telah kalah bersaing dengan mal dan tempat hiburan lainnya – yang tanda-tanda kekalahannya terbaca melalui ucapan masyarakat, misalnya “Pasar itu punya masjid”, “Mal itu masjidnya megah”, dan bukannya “Masjid itu punya mal”. Masjid yang dimaksud adalah masjid yang berdaya seperti di zaman nabi.

 

Dalam masa kenabian masjid adalah pusat kegiatan sosio-kultural dan sisio-ekonomis. Dalam kategori sosio-kultural, termasuk di dalamnya tempat sosialisasi anak, pendidikan, perpustakaan, dan kesenian. Masjid-masjid kuno mempunyai unsur sosio-kultural semacam itu, termasuk di dalamnya masjid-masjid di Indonesia yang mempunyai pesantren. Masjid juga mempunyai peranan sosio-ekonomis di masa nabi. Kaum sufa, yaitu mereka yang hidupnya semata-mata untuk ibadah, juga hidup di masjid. Pada zaman nabi juga, orang bisa membawa untaian anggur ke masjid dan digantungkan di pintu masuk, supaya mereka yang berminat dapat menikmatinya. Tentu lebih banyak lagi contoh yang dapat dikemukakan. (hal. 178)

 

Dicetaknya kembali buku ini menandakan bahwa pemikiran Kuntowijoyo masih relevan hingga saat ini. Kabar sedihnya, bahwa setelah lebih dari 30 tahun sejak kali pertama dia menuliskan idenya di Panji Masyarakat, Kiblat, Himmah, Suara Masjid, dan Prisma pada kurun 1982-1985, ide tersebut belum benar-benar terwujud. Kabar gembiranya, bahwa orang-orang masa kini yang hidup di era digital punya kesadaran yang sama melalui “Gerakan Kembali ke Masjid”.

 

Ternyata semangat berkontribusi itu masih membara di dalam dada. Hanya saja, mungkin selama ini umat Islam Indonesia terlanjur kelayapan ke mana-mana mencari konsep yang lebih canggih dari masjid. Semoga karya Kuntowijoyo ini turut menyemangati umat Islam Indonesia untuk kembali ke masjid. Bayangkan, kalau sekitar 87,18 persen dari jumlah penduduk Indonesia kembali ke masjid dan berkontibusi memajukan negeri ini, maka akan sehebat apa negeri ini?

 

Dedi Setiawan

ig: @dediLsetiawan

 

***

 

Data Buku

Judul                     : Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia

Penulis                 : Kuntowijoyo

Tebal                    : x + 203 halaman

Cetakan               : September 2017

Penerbit               : IRCiSoD

Harga                   : Rp. 70.000

ISBN                     : 978-602-7696-35-8

Leave a Reply