Menjahit Karya, Mengobati Luka

 

semakin perih lukanya

 

Luka dahulu, baru berkarya. Lumrahnya begitu. Sudah tidak terhitung jumlah karya yang lahir setelah luka. Semakin perih lukanya, bisa jadi semakin dahsyat karyanya. Sebutlah misalnya Penyair Chairil Anwar yang menulis sajak “Nisan” usai kematian neneknya. BJ. Habibie, presiden ketiga Indonesia, juga menulis Habibie & Ainun setelah kepergian istri tercinta. Untuk nama yang terakhir, berkarya merupakan terapi untuk menyembuhkan luka.

 

Luka Dalam Bara karya Bernard Batubara merupakan kebalikannya. Kumpulan fragmen, begitu Bara menyebutnya, dalam buku itu ditulis saat dia menjalani hubungan dengan seorang perempuan. Ketika hubungan itu kandas, barulah Bara menyatukan fragmen-fragmen yang semula tercecer di catatan harian dan sejumlah akun medsosnya.

 

luka dalam bara
Alvin (ilustrator), Bernard Batubara (penulis), dan Teguh Afandi (editor)

 

Dan yang tak kalah penting, menurut saya, Bara berusaha menjaga etika. Dia menunjukkan naskah mentah kepada mantannya. Dia juga memberi hak mengedit, kalau-kalau ada hal yang dirasa tidak perlu diketahui publik tentang kisah mereka. Hasilnya, semua aman.

 

Saat “Book Tour Luka Dalam Bara”, Senin, 1 Mei 2017, di Gramedia Merdeka, Bandung, saya bertanya ke Bara, “Ketika fragmen-fragmen yang tercecer itu diprasastikan dalam bentuk buku, apakah hal itu mengobati luka? Atau malah menambah luka?”

 

tour book luka dalam bara
Peserta “Tour Book Luka Dalam Bara”, Senin (1/5/2017), Bandung. (Diedit dari @benzbara_)

 

Karena perpisahan itu belum lama, Bara juga belum tahu pengaruh akhirnya. Tapi, menurutnya, sejauh ini efeknya positif. Berarti, meski tidak diniatkan sejak awal, membukukan karya bisa juga menjadi alternatif untuk menyembuhkan luka.

 

Hei, kamu yang terluka, mau membukukan kisahmu juga? Kalau kamu mencoba, tapi lukamu belum kunjung terobati, jangan berkecil hati. Setidaknya kisahmu bisa dijadikan bahan untuk tulisan “Meraih Laba dari Luka” heuheu.

3 Comments

  1. Pingback: resensi luka dalam bara | Dedi Setiawan

Leave a Reply