Menjalani Sebaik-baiknya Pilihan Hidup

Cikadut yang berliku, menanjak, dan sepi. Beberapa kuburan Cina di sisi kiri sudah terlewati. Ugh, sudah sejauh ini, tiba-tiba dapat kabar: kremasinya sudah selesai.

Uu’, begitu saya biasa memanggilnya. Rabu lalu dia meninggal. Jumat ini dikremasi. Meski dua malam berturut-turut saya hadir di rumah duka YPPK Bumi Baru, saya tetap sangat ingin menghadiri prosesi kremasinya. Hitung-hitung melepas kepergiannya. Tapi, ya, saya terlambat datang.

yppk bumi baru

Saya mengenal Uu’ belum lama. Baru sekitar 4 tahunan. Begitu kenalan, saya jadi selalu ingat. Dia unik. Dia waria.

Tidak banyak yang saya ketahui tentangnya. Saya memang tidak tertarik untuk mengorek-ngorek urusan orang lain. Yang saya tahu, ya, soal permukaan saja. Seperti masakannya yang enak. Dan jejak-jejak silikon di wajahnya.

Oiya, ada lagi, belakangan saya jadi tahu bahwa dia memulai hidup sebagai waria sejak SMP. Lalu menjadi tenar di tahun ’80-an ketika memenangi kontes kecantikan waria se-Jawa Barat. Ketika usianya hampir menyundul angka 50, ia masih mendapat pacar usia 20-an tahun. Tapi kemudian dia ambruk didera AIDS dan TBC. Saya sempat bertanya-tanya, andai tidak dikremasi, dia akan didandani sebagai perempuan atau laki-laki? “Dia sudah berpesan, ingin didandani memakai jas,” jawab saudaranya.

Begitulah hidupnya yang berliku. Terlepas dari segala pro-kontra, saya rasa orang-orang yang menjalani hidup sesuai dengan pilihannya memang layak mendapat penghormatan –seminimal-minimalnya dari seseorang, pada akhirnya. Karena belum tentu semua orang berani menentukan pilihan, apalagi menjalani pilihan tersebut. Ditambah lagi jika harus menanggung konsekuensi dari pilihan tersebut.

Ya, hidup memang pilihan. Dan menjalani sesuatu yang kita pilih itu belum tentu mudah. Selamat memilih, kawan-kawan. Sebaik-baiknya pilihan.

Leave a Reply