Menunggu Hasil Final Pilgub Jabar

 

Hari ini susah banget menahan rasa haru.

 

Berhari-hari digempur hasil servei yang mengerdilkan peluang #Asyik ternyata tidak membuat kader dan simpatisan menyerah. Mereka menggedor-gedor pintu langit, menerbangkan asa di sisa malam yang masih gelap.

 

Dulu, di awal-awal kampanye, ketua tim pemenangan pernah bilang, “Antum tau kehebatan pasangan #Asyik? Kehebatan #Asyik adalah karena tidak ada kehebatan yang menonjol pada pasangan ini.”

 

Saya hampir menangis mendengar kejujuran itu. Pernyataan yang banyak benarnya, mulai dari popularitas, elektabilitas, sampai dana. Jangankan tingkat keterpilihan, tingkat keterkenalan saja masih payah.

 

Saya yakin pasangan ini bisa bekerja dan berprestasi seperti Aher. Tapi, di tengah masyarakat yang masih sering terkecoh dengan gincu dan pencitraan, tingkat popularitas merupakan salah satu koentji untuk memenangkan pertarungan.

 

Soal dana, pilgub kali ini sejak awal sudah dicanangkan sebagai “pilgub paket hemat”. Kawan saya kasih julukan sebagai kandidat miss queen — untuk menyamarkan kata “miskin”. Di hari-hari selanjutnya, istilah itu menemukan pembuktian di lapangan.

 

Hati saya makin gerimis ketika ketua tim pemenangan melanjutkan, “Kita tidak sedang menunggu sesuatu dan tidak menunggu siapa-siapa.”

 

Pernyataan itu betul juga. Kalau menunggu sesuatu (duit?) atau menunggu seseorang, pasti tim pemenangan ini gak akan pernah mulai bergerak. Ya, akhirnya kader dan simpatisan bergerak juga. Bukan berlari, tapi ngesot. Sebenarnya mereka sudah siap berlari, tapi gak punya dana, brosur, spanduk. Ibarat motor yang sudah siap digas, tapi putaran rodanya gak mulus karena jalanannya becek (gak ada ojek? Eh, masih jaman gitu? Hehe)

 

Hingga hari tenang kampanye, kader dan simpatisan masih terus bergerak meyakinkan masyarakat untuk memilih #Asyik. Mereka ajak sebanyak-banyak orang untuk pilih #Asyik. Mereka menyapa dari hati ke hati. Mereka berkorban waktu, tenaga, pikiran untuk memenangkan #Asyik.

 

Mereka yang bertugas mengurusi saksi dan suara di TPS juga bekerja luar biasa. Tidak sedikit yang berjalan kaki dan nyasar mencari lokasi TPS. Di saat orang lain libur berkumpul bersama keluarga, mereka harus menahan rasa bosan bertugas di TPS. Di saat orang lain sudah bersiap tidur di malam hari, mereka masih berjibaku merekap dan mengamankan berkas C1 sebagai bukti penentu keabsahan kemenangan. Penentu militansi itu tentu bukan hanya diri mereka sendiri, tapi juga keikhlasan anak dan istri melepas ayah dan pasangan tercinta berjuang di gelanggang jihad politik.

 

(Semoga Allah balas kebaikan mereka dan keluarga mereka dengan kebaikan yang besar)

 

Usai pencoblosan, hasil Quick Count (QC) berseliweran. Pasangan #Asyik yang awalnya secara sinis diprediksi hanya akan meraup suara satu digit, ternyata menyundul di kisaran 30 persen. #Asyik menyodok ke posisi atas. Selisih perolehan suara (hasil QC) antara peraih suara terbanyak pertama dan kedua sangat kecil. Artinya, tidak ada yang dapat mengklaim kemenangan secara meyakinkan.

 

Jadi, kalau ada kandidat yang merasa sudah menang hanya karena melihat hasil QC, itu hanya klaim semata. Saya yakin bahwa kandidat itu tidak benar-benar yakin dengan klaimnya. Hatinya masih deg-deg serrr. ?

 

Suasana berbeda saya dapatkan di pusat media center #Asyik. Di Hotel Preanger, Bandung, itu, baik Sudrajat, Syaikhu, Haru, maupun tim yang lain, sama-sama mengeluarkan pernyataan yang santai tapi logis: menunggu hasil akhir perhitungan manual KPU.

 

Ya, iya, lah… Dengan hasil QC yang selisihnya tipis itu, mana ada pihak yang pantas mengklaim kemenangan.

 

Ya, ternyata ujian kader dan simpatisan #Asyik belum berakhir. Kalau dulu mereka dikepung dengan hasil survei, sekarang mereka dikungkung dengan hasil QC. Tapi, saya yakin, sebagaimana dulu mereka menolak tunduk terhadap hasil survei, sekarang juga mereka akan menolak berlutut di hadapan hasil QC. Mereka akan menunggu KPUD Jawa Barat menyelesaikan perhitungan manual.

 

Di malam-malam yang dingin dan gelap, di pojok rumah sederhana yang redup itu, saya kira di sanalah mereka akan terisak memohon kemenangan #Asyik. Di sana mereka meraba detak kemenangan. Dari pojok itu mereka memelihara prasangka baik kepada Allah.

 

Ya Rabb, kami telah dan terus berjuang, menggunakan anugerah yang Engkau beri dengan sebaik-baiknya. Berikanlah pemimpin yang #Asyik bagi Jawa Barat.

 

Dedi Setiawan
Rabu, 27 Juni 2018

2 Comments

  1. Saya juga herman (1 level di atas heran), yaitu dah jelas hasil Real CountT KPU Jabar – per 29 Jun jam 10.00 dgn data katanya sudah 70%, yang memenangkan pasanagn lain, tapi Kader Asyik (baca PKS), masih semangat luar biasa mengikuti hitung ulang di Kecamatan. Dan gilanya yang punya form C1, cuma saksi PKS duang, sementara saksi yang lain datang melongo tanpa data. RUarr Biasa . . . . .

Leave a Reply