Menyikapi KDRT, Poligami, dan Perselingkuhan: Sebuah Upaya Memahami Antara “Mencintai” dan “Takut Sendirian”

Sabtu ini memang aneh. Jam 3 dini hari ditawari untuk ikutan Woman Talk. Apa gak ada waktu yang lebih pas untuk menawari acara? Lagian, ini acara perempuan, kan? Tapi, lebih aneh lagi ketika saya menyanggupi untuk hadir dan… antusias! Yup, temanya terlalu menarik untuk dilewatkan: “Saatnya Kami Bicara tentang Poligami, KDRT, dan Perselingkuhan”.

 

woman talk

 

Tiga topik ini memang seperti gunung es, banyak terjadi tapi tak banyak yang mau membahasnya di ruang publik. Tak banyak, bukan berarti tak ada. Ada, tapi tak sebanyak yang sebenarnya. Makanya, ketika perempuan-perempuan itu bilang bahwa “Kami mau bicara”, otak saya langsung bilang, “Oke, saya mau dengar.”

 

Perempuan, Laki-laki, Semua Punya Andil

 

Sebenarnya saya sudah siap untuk disalah-salahkan. Karena tiga bahasan itu seolah-olah memang salah laki-laki. Siapa yang melakukan poligami? Laki-laki! Siapa yang sering diberitakan melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)? Laki-laki! Siapa yang sering ketauan selingkuh? Lagi-lagi, meskipun banyak juga perempuan yang melakukan kesalahan ini, tapi image-nya, tuh, laki-laki!

Anggapan itu dibantah oleh Irma Rahayu. Dengan gaya santainya ia mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama punya andil dalam terjadinya tiga topik itu. Tidak ada yang punya saham kesalahan lebih besar, semuanya sama.

cheat

“Banyak perempuan ‘merasa’ terzolimi, padahal 50% laki-laki selingkuh karena salah perempuannya,” kata founder Emotional Healing Indonesia ini.

Perhatikan, Irma menggunakan kata “merasa”. Perempuan terzolimi, benarkah? Jangan-jangan hanya perasaan. Karena bisa jadi mereka yang lebih dahulu menzolimi lelaki mereka.

Irma mencontohkan sifat dan sikap perempuan yang pencemburu dan pencuriga. Dari mana? Kok, pulang telat? Main sama perempuan lain, ya? Sekali, dua kali, suaminya masih bisa sabar. Tapi kalau sudah tiga kali dibegitukan, tidak sedikit laki-laki yang berpikir praktis: Ih, gue gak selingkuh aja dituduh selingkuh. Cape! Mendingan gue selingkuh beneran aja. Udah kepalang cape menghadapi tuduhan!

The Rules of Love | Richard Templar

Saya jadi teringat The Rules of Love­-nya Richard Templar. Buku itu mengungkap bahwa mengatasi rasa cemburu adalah tugas Anda, bukan tugas pasangan Anda. Pasangan Anda pasti mau membantu Anda memecahkan masalah ini. Tapi, apapun yang dia lakukan pasti tidak akan membuat puas jika Anda memang memiliki kecenderungan untuk cemburu.  Dan Anda tidak dapat membangun hubungan tanpa memiliki kemampuan untuk mempercayai pasangan. Harap diingat, pasangan Anda tidak bersalah sampai terbukti sebaliknya, dan Anda harus mempercayainya.

 

Kuncinya Saling Menghargai

 

Well, kembali ke Irma, kalau mau dihargai oleh pasangan, berarti Anda harus lebih dahulu menghargai pasangan Anda. Kalau Anda merupakan seorang istri, maka harus lebih dahulu menghargai suami. Kalau Anda suami, maka harus lebih dahulu menghargai istri.

Kalau suami tidak menghargai istri atau istri tidak menghargai suami, bagaimana? Ya, tidak perlu melakukan KDRT atau memaklumi terjadinya KDRT. Kalau komunikasi baik-baik sudah tidak bisa dilakukan, maka ambil jalur hukum. Jangan biarkan sang pasangan melakukan KDRT, apalagi sampai mengancam jiwa.

Kalau masuk ke ranah hukum, ujung-ujungnya bisa cerai dong? Kalau istri menggugat suami cerai, terus suaminya tidak ridho, si istri bisa masuk neraka, dong? Dengan bahasa yang ceplas-ceplos, Irma menjawab, “Eh, lo itu sekarang udah di neraka. Emangnya mau bertahan di neraka?”

Di sinilah Irma menyarankan pentingnya memahami perbedaan antara “mencintai” dan “takut sendirian”. Apa yang melatarbelakangi kita untuk menikah dengan seseorang? Benar-benar mencintai? Atau sekadar takut merasa sendirian?

Berpikirlah yang jernih. Karena ketidaktepatan dalam merumuskan jawaban dari pertanyaan tersebut bisa membuat hidup berantakan. Karena perasaan “takut sendirian”, “takut dianggap tidak punya pasangan”, atau “takut menghadapi stigma janda” bisa membuat seseorang mau menerima siksaan dari pasangannya. Mengerikan, bukan?  Dan kalau jawabannya karena mencintai, Anda harus menjawab pertanyaan selanjutnya, “Haruskah kita hidup dengan orang yang tidak membalas –bahkan tidak menghargai – cinta kita?”

poligami

 

Lantas bagaimana dengan poligami?

 

Jika mengacu pada ajaran Islam, poligami merupakan sesuatu yang diperbolehkan. Namun, Aisha Maharani, yang menjadi pembicara pertama dalam Woman Talk ini, memberi catatan. Ia menekankan pentingnya pemenuhan syarat-syarat bagi pelaku poligami. Pertama, mampu berlaku adil (QS. An-Nisa: 3). Kedua, mampu memberi nafkah kepada istri-istrinya (QS. An-Nur: 33).

Menurut founder Halal Corner ini, poligami yang dicontohkan Rasulullah, seminimal-minimalnya punya dua tujuan. Pertama, sebagai bentuk perlindungan terhadap janda yang suaminya meninggal dan anak-anak yatim. Kedua, sebagai media untuk menyelesaikan masala sosial saat itu ketika lembaga sosial yang ada belum cukup kokoh. Misalnya, dulu sering terjadi perang, sehingga keluarga korban perang perlu mendapat perlindungan.

Dengan demikian, Aisha berpendapat bahwa poligami adalah rukhsah (keringanan), bukan tujuan utama dan bukan pula anjuran. Ia adalah batasan yang ditetapkan syariat.

Ya, dalam Islam, seorang laki-laki diperbolehkan melakukan poligami, batasnya sampai empat istri. Tapi, jangankan sampai empat, berjumlah dua saja sudah berat sekali syarat-syaratnya. Karena Baginda Rasul pernah mengabarkan, “Siapa yang memiliki dua istri, lalu ia cenderung kepada salah satunya, maka ia datang di hari kiamat dalam keadaan badannya miring.”

Jadi, Anda sanggup berpoligami?

12 Comments

  1. sri widiyastuti

    bahasan yang menarik, apalagi dari sudut pandang bapak bapak 🙂 btw, hadits penutup dari bahasan ini diriwayatkan oleh siapa ya kang dedi? jadi penasaran, tidak banyak yang berpandangan dengan kang dedi lho, apalagi dibahas dengan serius seperti ini. kadang malah dijadikan bahan guyonan. nuhun sharingnya 🙂

  2. Menarik sekali ulasannya, Mas Dedi.
    Bahasan ini selalu menarik karena perempuan memang terlalu banyak “merasa”. Kalau ada orang lain yang dimadu atau di-KDRT, gampang “ikut merasakan” pula 🙂

    Saya setuju dengan kedua nara sumber dan ulasan Mas Dedi.

    Jadi ingat, ada kerabat yang ketika suaminya marah dan melakukan gerakan “menolak dengan tangan” di kepalanya, dia marah dan berkata, “Lebih baik kau pukul saya daripada kau kasih begitu kepalaku.” (Note: ini dialek kami, Mas Dedi, masih dimengerti, kan maknanya? hehehe).

    Sayangnya saya hanya mendengar dari ibunya. Saya tidak dengar langsung dari orangnya. Kalau saya dengar langsung, akan saya tegur. Bukannya kata2nya itu malah menantang minta dipukul?

    Yaah … perempuan.

    Oya, salut, Mas Dedi mau ikut acara seperti ini. Insya Allah akan menjadi berkah buat keluarganya ^_^

  3. Semoga kaum hawa yang membaca artikel ini turut mengamini bahwa, “wanita tidak selamanya benar”.

    Sebagai orang yang dahulu kala sering dimarahi oleh pasangan… aku ngerasa bahwa… yes, it is sucks …

    Wajar bilamana pria kemudian menjadi lelah. Eh, barangkali wanita juga lelah. Sama-sama lelah…

Leave a Reply