Pertanyaan Usil Tentang Penulis

write

 

Kita menulis supaya apa? Supaya terlihat pintar atau supaya pembaca menjadi pintar? Begitulah pertanyaan Anwari Natari mengawali acara “Mengulik Bahasa, Memaksimalkan Nilai Blog”, Jumat (21/4/2017), di Hotel Savoy Homann, Bandung.

 

Opsi jawabannya kemudian dijelaskannya sendiri. Kalau mau terlihat pintar, silakan gunakan bahasa-bahasa yang sulit, yang membuat jidat pembaca berkerut. Tapi kalau mau membuat pembaca menjadi lebih pintar, gunakanlah bahasa yang dimengerti oleh mereka.

 

Penulis jenis kedua itu, mungkin termasuk yang dibilang Eka Budianta dalam Senyum untuk Calon Penulis, yaitu “pengarang nurani”. Orang jenis ini menulis karena merasa ada sesuatu yang perlu dilakukan. Mungkin untuk kepentingan anak-cucu. Mungkin juga untuk membela alam, lingkungan, kebudayaan, agama, bahkan sejarah dan bangsanya.

 

dont stop

 

Menyapu Secermat Einstein, Menulis Setekun Beethoven

 

Suatu hari Martin Luther King Jr. mendapat pertanyaan, “Saya hanya seorang tukang sapu, bagaimana saya dapat ikut berperan dalam kebudayaan dan ikut berjasa?”

 

Pertanyaan itu kemudian dijawab, “Bila Anda dapat menyapu secermat Einstein menyusun rumus-rumusnya dan seindah Shakespeare menggubah puisinya, maka seluruh bumi akan berkata, di sini ada seorang tukang sapu yang benar-benar menjalankan tugasnya.”

 

Kisah di atas masih dari bukunya Eka. Oiya, bukan cuma kisah, tapi plus pertanyaan usil lainnya: Berapakah gaji tukang sapu yang betul-betul menjalankan tugas secermat Beethoven menggubah lagu?

 

Menurut Eka, tentu saja uang di seluruh dunia tidak cukup untuk membayarnya. Hal yang sama berlaku juga untuk pengarang. Kalau seorang pengarang berhasil menanamkan budi pekerti yang baik, berapa honorariumnya? Tidak ada hadiah yang memadai untuk jasanya.

 

Kalau tulisan ini ditujukan untuk menyemangati orang-orang supaya menulis, saya pikir tulisan ini sudah bisa berhenti di paragraf di atas. Tapi, di otak saya sudah kadung ada pertanyaan nakal. Masak pertanyaan itu saya simpan sendiri? Mending saya ungkap di sini, siapa tahu ada yang ikut tergelitik.

 

Begini, andai kamu memilih untuk menjadi penulis yang membuat pembaca menjadi pintar. Andai kamu bisa menulis secermat Einstein menyusun rumus, setekun Beethoven menggubah lagu, dan seindah Shakespeare menulis puisi. Dan karenanya tidak ada hadiah yang memadai untuk jasamu. Apakah kamu rela menulis tanpa dibayar? 😉

2 Comments

  1. Pingback: Cemas Soal Kesehatan? Yuk, Dukung Germas! | Dedi Setiawan

Leave a Reply