#PesanAyah: Di-“tembak” Banyak Orang Itu Bukan Prestasi

Kalau yang pertama tentang pesona, yang kedua tentang, ehem… sebetulnya saya agak ragu juga, apakah memang sudah waktunya nasehat seperti ini diberikan. Tapi, ya sudahlah ya, sampein aja hehe.

 

Kedua, suka sama lawan jenis itu manusiawi, tapi ingat, bagi kita orang Islam, saling suka itu ujungnya ya pernikahan. Sejak awal cita-citanya kudu ke pelaminan.

 

Suka sama orang, ya gak papa. Manusiawi. Normal. Tapi pas suka itu kamu sudah harus bertanya: suka itu ujungnya mau gimana? Cuma dekat? Untuk apa? Suka tapi tidak ada niat untuk menikah, ya untuk apa?

 

 

 

Mau menikah? Ya, gak papa. Tapi, beneran mau menikah saat SMP? hehe. Kalau punya target menikah saat lulus kuliah, ya gak usah penjajakan sejak SMP. Terlalu lama. Buang waktu. Usaha menuju pernikahan itu mestinya sih gak lama-lama. Kalau memang sama-sama serius ingin menikah, mungkin 3-6 bulan sudah cukup untuk perkenalan. Tergantung jodoh sih hehe.

 

Itu seperti anak SD mau mendaftar ke SMP negeri. Dia datang di bulan Januari, padahal pendaftaran buka di bulan Mei. Bukan soal anak itu pintar atau tidak, tapi waktu pendaftarannya belum buka.

 

Itu juga kayak kita gak makan siang di bulan Ramadhan. Bukan soal  makanannya lezat atau tidak. Hanya saja belum waktunya berbuka.

 

Lagian, pikiran kita tentang orang keren itu seringnya berubah-ubah. Coba ingat, siapa yang menurut kamu keren saat di TK dulu? Pas kamu SD, pasti berubah, kan? Dia yang dulu kita anggap keren, mungkin sekarang gak keren lagi. Sama, pas SMP dan SMA, apalagi kuliah, kemungkinan bakal berubah juga. Jadi, gak usah sibuk sejak SMP. Santai saja. Semua masih akan berubah.

 

Tiba-tiba Aliya nyeletuk, “Aku pernah lho dapat surat dari temen les bahasa Inggris.”

 

Deg… saya merasa telat setahun ngobrol panjang lebar begini. Supaya agak tenang, saya menyeruput Catatan Kopi. Sruuup. Kopi ini asyik banget untuk menemani nyetir di malam hari. Saya memang ngobrol dengan Aliya saat sedang dalam perjalanan menuju Bandung. Perjalanan masih sekitar 300 kilometer lagi.

 

Menyiapkan Catatan Kopi untuk teman nyetir

 

“Trus?” Kejar saya.

“Aku bilang ke dia bahwa aku gak dibolehin pacaran sama orang tua aku.”

“Oooh, bagus. Jawabannya sesuai keinginan ayah. Tapi, kenapa dia bisa kasih surat ke kamu?”

“Aku juga gak tau. Aku gak kenal. Surat itu dititipin ke temen aku.”

 

Emm, pertanyaan “kenapa” itu memang gak tepat sih. Aliya gak akan tau jawabannya. Jatuh cinta itu memang hak semua orang. Kita gak bisa melarang orang untuk jatuh cinta. Untuk membuat orang suka ke kita, mungkin kita bisa berusaha. Tapi, melarang orang jatuh cinta, gimana caranya? (Pengalaman siapa nih :p)

 

Tadinya saya sudah akan mencukupkan obrolan ini. Tapi, pas Aliya menyeletuk tentang surat itu, saya jadi ingin menambahkan sedikit. Jadinya saya lanjut lagi….

 

Ada orang yang merasa bangga ketika di-“tembak” oleh banyak orang. Orang itu menganggap hal tersebut sebagai prestasi. Bisa jadi dia menganggap bahwa menaklukkan sekian banyak hati merupakan suatu pencapaian yang patut dirayakan.

 

Ya, itu orang lain. Kita gak usah mencampuri sesuatu yang menjadi kebanggaan orang lain. Tapi kamu, kalau suatu hari nanti banyak yang bilang suka ke kamu, kamu tetap harus tenang. Santai saja. Gak usah ke-GR-an. Itu bukan prestasi.

 

(Kalau ada orang yang jatuh cinta ke kita, itu bukan semata-mata kitanya yang hebat. Mungkin memang dianya yang hebat. Bayangkan, dia bersedia untuk “jatuh”… cinta. Mencintai itu mestinya pekerjaan orang kuat. Kalau kemudian dia menjadi lemah karena mencintai, ya itu mah nasib aja haha)

 

Memangnya kalau ada seribu orang bilang suka ke kita, kita bakal punya pasangan berapa banyak? Meski ada seribu orang yang bilang suka ke kita, pada akhirnya kita “cuma” memilih satu untuk menjadi pasangan sah kita. Setelah kita memilih yang satu itu, yang 999 itu mestinya sudah tidak berarti lagi. Lupakan cinta yang gak ada niat ke pelaminan. Lupakan cinta yang tidak berakhir di pelaminan. Lupakan juga cinta yang sudah naik ke pelaminan, tapi berpisah di tengah jalan. Artinya lagi, tanpa kehadiran yang 999 itu, kalau kita diberi satu yang pas, itu sudah cukup. Begitu.

 

Saya lirik jam, sudah jam 10 malam. Gak mungkin saya ngomong terus sampai besok pagi hehe. Jadi, Aliya saya biarkan tidur, seperti adik-adiknya yang sudah duluan terlelap.

One Comment

  1. Pingback: #PesanAyah: Pesona Itu Seperti Durian | Dedi Setiawan

Leave a Reply