#PesanAyah: Pesona Itu Seperti Durian

Oke, setelah sempat flashback, sekarang kita masuk ke nasehatnya.

 

Pertama, saya bilang ke Aliya, gak usah cari-cari perhatian orang lain. Jalani proses pendidikan secara baik. Belajar yang baik. Berteman yang baik. Gak usah ingin tampil berlebihan supaya dilihat orang. (Kecuali memang ingin menjadi selebriti dkk)

 

Mencari perhatian orang lain itu melelahkan banget. Masak nilai diri kita ditentukan oleh perhatian orang lain? Gak banget deh. Lebih capek lagi ketika berbagai atraksi yang kita tampilkan ternyata tidak menarik bagi orang lain.

 

 

 

Bedakan antara penampilan dan kemampuan. Kamu boleh punya kemampuan luar biasa, tapi penampilan kamu sebaiknya tetap normal-normal saja. Orang lain akan mengakui kehebatanmu ketika kamu memang hebat. Pesona itu akan muncul tanpa harus dimuncul-munculkan.

 

Pesona itu bukan semata-mata penampilan fisik. Kamu mungkin berpikir bahwa cantik itu pasti menarik. Salah. Kalau cantik mendatangkan lirikan, bisa jadi.

 

Tapi ingat, di atas cantik masih ada yang cantik banget, di atasnya lagi ada yang amat sangat cantik, dan seterusnya. Dengan kata lain, setelah seseorang melirik yang cantik, dia akan melirik yang cantik banget, lalu melirik yang amat sangat cantik, dan seterusnya. Jadi, mestinya kamu gak merasa bangga ketika dijadikan bahan lirikan.

 

Pendapat orang tentang cantik juga berbeda-beda. Makanya ada yang bilang bahwa cantik itu relatif dan jelek itu mutlak *kabuur. Kamu mungkin berpikir bahwa cantik itu identik dengan putih. Padahal di Afrika sana, bisa jadi yang namanya cantik itu ya yang hitam mengkilap.

 

Pernah ketemu dengan orang yang secara fisik biasa saja tapi kesannya sangat menarik, kan? Ayah, pernah! Lha, kenapa jadi gue yang curhat? Bisa jadi dia menarik karena memang dia pintar. Bisa jadi dia menarik karena keahliannya di suatu bidang. Bisa jadi dia menarik karena pembawaannya, sederhana misalnya. Artinya, bagaimanapun pembawaan fisik kita, kita berpeluang menjadi menarik. Kita berpeluang memiliki pesona.

 

Dari dulu ayah selalu berpikir, pesona itu seperti durian. Bagaimanapun kita menyimpannya, baunya akan tercium juga. Ada yang tergila-gila, ada yang gak suka sama sekali. Kita gak bisa membuat semua orang suka ke kita. Jadi, kalau dipuji, ya tetap tenang. Kalau dicaci, ya introspeksi.

 

Kalau kita sudah berusaha baik, tapi masih diomongin di belakang, ya biar saja. Gosip tidak akan mengubah kualitas diri kita. Kalau kita memang pintar, kita gak akan berubah menjadi bodoh ketika digoblok-goblokin orang. Kalau kita memang cantik, kita gak akan berubah menjadi buruk rupa ketika dijelek-jelekin orang. Jadi, santai saja.

 

Kedua… ehem, setelah yang satu ini. Hehe, supaya kayak acara-acara tivi gitu lho.

2 Comments

  1. Pingback: #PesanAyah: Jangan Nyontek | Dedi Setiawan

  2. Pingback: #PesanAyah: Di-“tembak” Banyak Orang Itu Bukan Prestasi | Dedi Setiawan

Leave a Reply