Puisi untuk Ibu

DENGAN APA, MA?

 

Dengan apa kubalas cintamu?

Kata puji lebur terdistorsi
sebelum udara menuntaskan kerjanya
mengantar hertz terendah pada daun telingamu
sedang metafora tak pernah purna
mengukir kasihmu dalam bait-bait kata

Setiap kali keputusasaan menyergap
kupanggil memori terindah kebersamaan kita,
lalu engkau seperti melepas jiwa
menitipkannya pada angin di tenggara Sumatera
mengarungi mil selat sunda
sampai di sebuah cekungan barat Jawa.
Jiwa yang kau lepas itu
menyulam lagi asa jiwaku

Kureguk berkah mata air air mata
saat kau menerbangkan asa ke langit tertinggi
di sisa malam yang masih kabut
bukankah namaku tak pernah luput kau sebut?
Sedang lisanku terlalu tergesa menyebutmu
di ujung munajat yang tak kunjung khusyuk

 

Dedi Setiawan

Desember 2010

7 Comments

Leave a Reply