Resensi Buku “66 Hari Bersama Soeharto” Karya Tantri Abeng

Cover Buku "66 Hari Bersama Soeharto" karya Tantri Abeng
Cover Buku “66 Hari Bersama Soeharto” karya Tantri Abeng

 

Terlepas dari segala kontroversi, kehidupan H. M. Soeharto yang telah memimpin negeri ini selama 32 tahun sangat pantas dijadikan pembelajaran. Dalam kurun waktu tersebut, salah satu yang menarik dipelajari adalah gaya saat menjalani masa-masa genting, terutama 1998. Buku 66 Hari Bersama Soeharto karya Tantri Abeng mencuplik masa kepemimpinan penguasa Orba pada tahun kemelut tersebut.

Terpaan krisis ekonomi tahun 1997-1998 menyebabkan jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Rupiah terjun bebas dari 2.000 menjadi 15.000 per dollar AS pada 1998. Keadaan ini membuat Soeharto berutang 43 miliar dollar AS kepada International Monetary Fund (IMF). Saat itu dia membungkuk menandatangani Letter of Intent (LoI) disaksikan Managing Director IMF Michael Camdessus yang berdiri tegak sambil menyilangkan tangan di dada.

Banyak orang menganggap pengemban Supersemar ini sudah mati kutu. Tapi, ternyata tidak. Setelah penandatanganan tersebut, dia langsung muncul di televisi untuk berpidato tanpa teks. “Saudara-saudari sebangsa dan setanah air, tak usah khawatir dengan utang ini. Kita masih mempunyai banyak BUMN,” katanya (hal 39).

Soeharto | sumber gambar: indearchipel.wordpress.com
Soeharto | sumber gambar: indearchipel.wordpress.com

Pernyataan itu mengundang banyak tanya. Saat itu memang ada 158 BUMN. Tapi lebih dari setengahnya lemah dan terpisah-pisah di 17 departemen. Apa yang bisa dibanggakan?

Namun, pada kalimat sederhana itu sebenarnya tersimpan solusi tuntas untuk membayar utang negara. Jalannya memang tidak instan, butuh proses. Ayah Hutama Mandala Putra ini memiliki visi agar ratusan BUMN itu berpola korporasi dan ditingkatkan nilainya. Dengan demikian, Indonesia bisa mencicil utang. Inilah cikal-bakal bentuk BUMN sekarang dan sepertinya akan terus berproses menjadi national holding company.

Ide tersebut membuat IMF gerah. Mereka mendesak agar ratusan BUMN segera dijual. Namun, kepala negara menolak. Ia tidak mau menjual BUMN dengan harga obral. Sebagai contoh, saham Garuda hanya ditaksir 1 dollar AS saat itu.

Secara khusus salah satu pemimpin perebutan Irian Barat ini berpesan kepada Tantri Abeng, “Saya tidak mau Garuda bangkrut. Ia harus terbang terus membawa bendera republik. Saudara harus mampu menerbangkannya ke angkasa dunia.”

Garuda terus memperbaiki diri. Perlahan namun pasti, Garuda meraih kepercayaan publik. Saat Initial Public Offering (IPO) pada 2011, Garuda mencatatkan nilai 1,6 miliar USD di Bursa Efek Jakarta. Begitulah, idenya membuahkan hasil dan bermanfaat, meski ia tidak lagi memimpin Indonesia. Lantas, mengapa Presiden kedua RI ini ini bisa tetap tenang dalam situasi genting?

Soeharto | sumber gambar: nasional.news.viva.co.id
Soeharto | sumber gambar: nasional.news.viva.co.id

Ia berhasil mengimplementasikan konsep hasta brata, ilmu tentang delapan sifat alam yang merupakan simbol kearifan dan kebesaran Sang Pencipta. Delapan sifat itu adalah bumi (suka memberi perhatian), matahari (menghidupi semua), bulan (menghibur di kala susah), bintang (menjadi pedoman), angin (memahami kemauan rakyat), samudera (pandangan luas dan dalam), api (berani mengambil keputusan), dan air (kemampuan menyesuaikan diri).

Falsafah lainnya, ojo gumunan, ojo kagetan, lan ojo dumeh. Pemimpin jangan mudah terlalu terheran-heran (gumunan) dengan sesuatu yang baru. Dia juga jangan menunjukkan sikap kaget (kagetan) jika ada hal-hal di luar dugaan. Terakhir, jangan sombong (dumeh) dan aji mumpung. Inilah cara menjaga sikap dan emosi pemimpin (hal 20).

Begitulah Pak Harto. Berbicara tentangnya, tentu tidak pernah sepi dari pro dan kontra. Namun, yang lebih penting dari itu semua, kita sebagai bangsa harus bisa mengambil pelajaran dari sosok dan kepemimpinannya di negeri ini.

catatan: resensi ini dimuat di Koran Jakarta edisi Kamis, 10 Maret 2016

Leave a Reply