Review Buku Sutan Sjahrir, Demokrat Sejati Pejuang Kemerdekaan

Diagnosis dokter menyatakan bahwa ia mengalami pendarahan di otak. Tujuh hari ia berada dalam keadaan koma. Empat puluh tujuh tahun yang lalu, tepatnya tanggal 9 April 1966, akhirnya ia menghembuskan nafas terakhir. Enam hari kemudian, seluruh media pemberitaan di Indonesia menyiarkan dekrit yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno. Dekrit yang mengukuhkannya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

sutan sjahrir demokrat sejati

Hari itu, 18 April 1966, orang-orang muda pendukung rezim baru, pelajar dan mahasiswa dari organisasi KAPPI dan KAMI membuat “barikade simbolik”, yang pada pelakatnya berbunyi: “Bapak kami, St. Sjahrir telah meninggalkan dunia ini”. Puluhan ribu rakyat berdiri sepanjang jalan, menjadi saksi prosesi perjalanan terakhirnya menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Seolah langit ikut menangis, hujan turun dengan derasnya ketika peti jenazah tiba di tempat pemakaman. Lagu Gugur Bunga diperdengarkan. Lalu Bung Hatta menyampaikan euloginya, menegaskan bahwa Sjahrir “meninggal karena korban tirani”. Apa sebenarnya maksud Bung Hatta? Bagaimana rekam jejak karir kepahlawanan Sjahrir? Buku ini mengulasnya dengan unik dan apik.

 

Buku Rasa Drama

 

Buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, ringkas, dan khas oleh Rosihan Anwar – wartawan senior dengan daya ingat yang kuat (Kompas, 25 Maret 2010). Juga dilengkapi dengan 100 foto yang menggambarkan kehidupan Sjahrir. Disusun menggunakan dramaturgi konsep Aristoteles untuk meriwayatkan Sjahrir. Maka membaca buku ini, seolah kita diajak untuk menyaksikan sebuah lakon drama, dengan tokoh utama bernama Sjahrir, pada panggung sejarah Indonesia.

Tirai dibuka, lakon pun dimulai. Di bawah judul “Babak I: Tahun-Tahun Pertumbuhan”, perkembangan Sjahrir digambarkan dengan jelas. Ia berasal dari keluarga kaum terpelajar. Pernah mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Algemene Midderbare School (AMS), kemudian kuliah di Fakultas Hukum Gemeente Universiteit van Amsterdam dan mendaftar di Universiteit Leiden.

Ia mulai jatuh hati pada Sosialisme. Mengakrabi teman-teman ekstrim radikal, berkelana ke kiri, di kalangan kaum anarkis yang mengharamkan segala tentang kapitalisme. Ia bagai bohemian, seniman bebas merdeka, betahan hidup secara kolektif, saling berbagi satu sama lain, kecuali sikat gigi.

Pada Februari 1930, Sjahrir bergabung dan terpilih sebagai sekretaris Perhimpoenan Indonesia. Akhir Desember 1931 ia pulang ke Indonesia, aktif mengembangkan partai PNI-Pendidikan (atau PNI-Baru). Juni 1932, ia terpilih sebagai Ketua Pimpinan Umum partai. Karir politik yang melaju pesat dalam waktu singkat, saat itu ia baru 23 tahun.

Babak ini juga menceritakan suasana represif jaman penjajahan Belanda. Tahun 1934, Belanda menangkap 13 orang aktivis PNI-Pendidikan, dua diantaranya adalah Hatta dan Sjahrir. Pada Januari 1935 mereka dibuang ke Digul. Tahun 1936 dipindahkan ke Banda Neira, Maluku. Setelah tujuh tahun hidup dalam pengasingan, akhirnya mereka dipulangkan ke Jawa.

Soekarno bicara dengan Hatta dan Sjahrir. Mereka menyepakati pembagian tugas. Soekarno dan Hatta bekerja sama dengan Jepang agar bisa memajukan perjuangan kaum nasionalis, sedang Sjahrir bekerja di luar arus utama. Sjahrir “Bernapas di Bawah Tanah”, babak II pun dimulai.

sukarno hatta sjahrir

Berbeda dengan Soekarno dan Hatta, Sjahrir menghindari berhubungan dengan Jepang. Secara ideologi dan prinspil ia memang menentang fasisme Jepang. Saat Jepang melakukan sensor terhadap siaran informasi dari luar negeri, diam-diam ia mendengarkan siaran radio Sekutu. Sehingga ia punya informasi yang benar di saat yang tepat. Ia membuat riak gerak dari bawah tanah.

 

Menarik Diri dari Pusat Kekuasaan

 

Di hari-hari yang berdekatan dengan hari proklamasi, Sjahrir menarik diri dari pusat kekuasaan. Ia memilih berkeliling Jawa untuk melihat langsung situasi yang sedang berkembang. Ia merenung dan berpikir. Kemudian mengambil putusan menentukan. Seperti pada drama, ini saatnya point of attack. “Babak III: Titik Serangan” pun dimulai.

Tanggal 17 Oktober 1945 Sjahrir menjadi Ketua Badan Pekerja KNIP. Sebulan kemudian, ia terpilih sebagai perdana menteri di kabinet parlementer. Belanda lalu bersedia berunding dengan pemerintah Indonesia. Untuk pertama kalinya, dunia mengakui secara de facto keberadan Indonesia, setelah ditandatanganinya Perjanjian Linggarjati.

Tapi krisis kepercayaan malah terjadi. Tan Malaka dan kelompok oposisinya menuntut agar ada perundingan yang mengakui 100 persen kedaulatan wilayah Indonesia. Tokoh-tokoh komunis menarik dukungan terhadap Sjahrir. Akhirnya, pada 27 Juni 1947 Sjahrir mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri.

Hasil Perjanjian Renville, wilayah Indonesia semakin menciut. Bung Hatta lalu membentuk kabinet presidensial. Sjahrir menjadi penasihat khusus presiden. Indonesia kembali berdaulat setelah terselenggaranya Konferensi Meja Bundar (KMB). Sejak akhir tahun 1949, Sjahrir tidak lagi memegang jabatan resmi apapun dalam pemerintahan Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Babak IV: Pemikiran Politik dan Konflik Terus. Bagian ini menerangkan perkembangan pemikiran Sjahrir. Tentang Marxisme, ia berpendapat bahwa perjuangan kelas yang merupakan sendi ajaran Marx tidak lagi relevan untuk diterapkan. Sosialisme tidak perlu dicapai dengan cara revolusi, tapi bisa dengan cara demokratis. Ia berjuang bersama Partai Sosialis Indonesia (PSI), partai yang di kemudian hari dibubarkan oleh pemerintah.

“Babak V: Akhir Lakon dan Kesimpulan” menggambarkan hari-hari penghabisan yang dialami Sjahrir. Tanggal 16 Januari 1962 ia ditangkap, lalu dipenjara. Karena sakit parah, tanggal 21 Juli 1965 ia diterbangkan ke Swiss. Sampai akhir hayatnya, ia tak bisa menghirup udara Indonesia, negeri yang dulu ia perjuangkan dengan tenaga dan pikirannya dalam suka maupun duka. Lakon Sjahrir selesai. Tirai kembali ditutup.

Demikianlah 5 babak yang menggambarkan hidup Sjahrir. Rosihan Anwar menawarkan premis “Cita-Cita yang luhur membawa kepada maut, tapi juga harapan” untuk merumuskan riwayat hidup Sjahrir. Premis yang cermat. Menurut saya, ini buku yang berhasil menggambarkan kontribusi Sjahrir hingga ia pantas disebut sebagai Pahlawan Nasional.

 

Data Buku:

Judul : Sutan Sjahrir: Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan

Penulis : H. Rosihan Anwar

Edisi : Cetakan I, Februari 2010.

Penerbit : Kompas

Diresensi oleh : Dedi Setiawan

One Comment

Leave a Reply