Salat Berjamaah

 

mas kawin

Saya mau nulis tentang sesuatu. Tapi, kok, sepertinya tidak enak hati kalau tidak menggunakan amsal. Baiklah, itung-itung sahabat semua membantu saya, mari kita anggap di dunia ini hanya ada satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. Keduanya muslim.

Nah, sekarang saya jadi lebih enak menulisnya. Terima kasih atas bantuannya 🙂 . Saya mau nulis begini:

Bagi yang laki-laki, sehebat apapun bacaan Qur’an-nya, sebanyak apapun hafalannya, tidak akan mendapat pahala salat berjamaah kalau tidak mau menjadi imam.

Bagi yang perempuan, seindah apapun bacaannya Qur’an-nya, sebanyak apapun hafalannya, tidak akan mendapat pahala salat berjamaah kalau tidak mau menjadi makmum.

Menjadi imam bagi laki-laki dan menjadi makmum bagi perempuan merupakan fungsi yang harus dilakukan untuk mendapat pahala salat berjamaah. Kenapa mesti salat berjamaah? Salah satunya, supaya terbuka peluang untuk mendapat kebaikan yang lebih besar.

Tapiii, seingin-inginnya, semenggebu-menggebunya dua orang ini untuk salat berjamaah, niscaya tidak akan terlaksana jika tidak bertemu. Mau si perempuan “buka-bukaan” gimana pun, kalau memang belum saatnya bertemu, ya, tidak akan bertemu. Begitu juga dengan si laki-laki.

Kalau belum bertemu, ya, harap bersabar, tentu sambil terus berusaha. Mesti diingat, karena ini menanti salat berjamaah yang notabene merupakan ibadah, maka usahanya juga harus yang baik-baik. Siapkan bekal supaya nantinya bisa menjalankan fungsi dengan baik. Jangan sampai ketika nanti salat berjamaah, eh, yang laki-laki gagal menjadi imam dan yang perempuan tak sudi menjadi makmum. Alamak!

Semoga semuanya dipermudah untuk salat berjamaah, ya. Bagi yang sudah, semoga salat berjamaahnya semakin berkualitas 😉

Leave a Reply