Selagi Belum Finish, Boleh Membalap di Tikungan

IMG_20170309_084517

 

Saya senang melihat ANAKNYA Amien Rais (Haqi Rais) berlomba-lomba dalam kebaikan. Mengetahui perempuan pujaannya sudah punya pacar tidak membuatnya patah arang. Dengan mantap dia bilang:
…Aku mengajak kamu untuk tegas dalam memutuskan sesuatu.

Jika memang TIDAK, aku akan berhenti, dan tidak ingin membuang waktuku untuk menunggu kamu, membayangkan kamu setiap fajar mulai tenggelam, dan membuang waktuku untuk tidak segera mencari sosok istri di usiaku yang sudah tepat untuk menikah.
Namun.. Jika IYA, aku ingin segera melamarmu, mengajak kedua orang tuaku, untuk berhadapan dengan orang tuamu, kemudian menikah dengan kamu.

Saya juga senang melihat respons si perempuan (Selmadena) ketika ada lelaki (yang InsyaAllah) soleh datang padanya. Meski berat, dia memutuskan pacarnya dan menerima lamaran laki-laki yang lebih siap berumah tangga. Begini katanya:
Aku harus memilih orang yang berani mengajakku untuk menikah… Sosok yang memang tidak pantas ditolak lamarannya.

 

 

Lihat, kejelian si lelaki melihat peluang dan si perempuan menyambut peluang. Sesederhana itu. Kalau memang jodoh, mereka akan bersisian di pelaminan.

 

Ya, kalau memang mau menikahi, kenapa tak segera melamar? Kalau memang siap menikah, kenapa tak menerima lamaran orang yang sudah lebih siap?

 

Lantas, bagaimana kita tahu bahwa orang yang kita mau merupakan orang yang tepat? Ada banyak jawaban, tapi salah satunya adalah keyakinan yang bulat. Ya, keyakinan!

 

Dulu, saat ingin melamar, saya merasa sangat yakin bahwa saya merupakan lelaki terbaik untuknya. PeDe amat ya! ? heuheu. Niat saya baik dan insyaAllah saya mampu membawanya kepada kebaikan. Bahkan, saking yakinnya, saya sampai merasa terwakili lirik lagu Yovie and Nuno:
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu

 

Berlebihankah? Bisa jadi. Tapi, kalau kita memandang pernikahan sebagai bentuk ibadah, kenapa kita tidak ingin menjadi yang terbaik? Kalau merasa belum baik? Ya, perbaiki diri. Pantaskan diri. Masak kita tega membuat pujaan kita menikah dengan orang yang tidak baik?

 

Nah, mikiiir! ?
*kayaknya enak nih kalau dilanjut ke “Sampai level kebaikan seperti apa baru kita memutuskan untuk menikah?”.
Semoga ada waktu. Sekarang lagi di kolam renang. Byuuurrr ????

 


 

 

3 Comments

  1. Pingback: Menyegerakan Substansi, Mempermanis Ekspresi | Dedi Setiawan

Leave a Reply