Serakah karena Merasa Terbatas

paket rejeki

Beberapa bulan lalu saya berlangganan internet paket unlimited. Paket yang kuotanya tak terbatas. Ketika berlangganan paket ini, saya merasa pemakaian internet saya biasa-biasa saja. Standarlah, paling-paling untuk medsos. Kuota terpakai 5 GB per bulan itu sudah top banget, bahkan mungkin tidak pernah sampai segitu.

Tiba-tiba operator langganan mengubah kebijakannya. Operator itu meniadakan paket internet unlimited. Sebagai gantinya, operator itu menyediakan paket 30 GB untuk masa berlaku tiga bulan. Akhirnya, saya pilih paket itu.

Ternyata perubahan paket internet ini berdampak pada kebiasaan saya berinternet. Hmm, sorry, bukan kebiasaan kali ya. Mungkin lebih tepatnya mental.

Begini, tiba-tiba saya merasa rugi jika kuotanya tidak terpakai. Saya merasa sayang jika kuotanya nanti tersisa di akhir periode. Akibatnya, saya jadi sering menggunakan internet. Dan, setelah dihitung, sebulan saya menghabiskan sekitar 10 GB. Waduh!

Jujur, menurut saya ini boros banget*. Saya jadi bertanya, kenapa saya jadi seperti orang serakah, ya?

Setelah saya renungi (Kayak orang tua, ya? Iya, sudah beruban juga! Puas?), ternyata saya “merasa perlu menjadi serakah” setelah menyadari bahwa paket internet yang saya miliki ini kuotanya terbatas. Ampun deh, kenyataan ini membuat saya kaget. Tapi, memang ada benarnya juga.

Saat menggunakan paket internet unlimited, saya merasa tidak rugi ketika pemakaian bulanan saya hanya 2 GB. Saya pikir, saya bisa menonton YouTube kapanpun saya mau. Eh, tunggu… kapanpun saya mau? Saya baru sadar bahwa itu bisa berarti saya tidak akan pernah melakukannya –setidaknya, frekuensinya terbilang jarang. Nyatanya memang begitu. saat menggunakan paket unlimited, saya sangat jarang menonton video.

Dari Paket Internet ke Kehidupan Nyata

Saya jadi merefleksikannya ke kehidupan. Jangan-jangan, kalau saya serakah, saya belum benar-benar beriman kepada Sang Maha Pemberi. Kalau benar-benar yakin bahwa rezeki yang tersedia memang tidak terbatas, mestinya tidak perlu serakah dong. Kan, semua orang kebagian. Semua orang punya jatahnya masing-masing. Jatahnya ya paket rezeki unlimited dari Sang Maha Pemberi.

Lantas, kalau semua orang yakin bahwa dia memakai paket rezeki unlimited dari Sang Maha Pemberi, kenapa kita mesti serakah? Kenapa mesti berebut hingga saling sikut? Selow aja, brother and sister, karena kita bisa menikmatinya kapanpun kita mau 😉

*NB: Yup, saya merasa boros, tapi tidak merasa rugi. Karena ternyata saya jadi sering nonton YouTube yang isinya tentang pengetahuan hehe

Leave a Reply