Belajar dari Khabib Nurmagomedov

Khabib Nurmagomedov. Juara UFC kelas lightweight itu akhirnya memutuskan pensiun. Rekornya sempurna, 29 kali bertanding, 29 kali pula menang. Tak pernah sekalipun kalah.

Lantas, apa yang bisa kita pelajari dari petarung berjuluk “The Eagle” itu?

Menghormati Orang Tua

Dalam sebuah wawancara menjelang UFC 242 melawan Dustin Poirier, Khabib diminta memberi nasehat kepada para fansnya –terutama yang masih muda. Dia kemudian menasehati para fans untuk menghormati orang tua.

“Hormati orang tuamu. Mereka sangat penting. Mereka adalah segalanya. Dengan begitu, semua hal dalam hidupnya akan berjalan dengan baik,” katanya.

Ketika remaja, lanjutnya, mungkin kita merasa lebih kuat. Tapi, kita harus mengingat semuanya. Ingatlah ketika mereka mendukung kita. Mereka melakukan segala hal agar kita bisa tumbuh.

Menjaga Etika

Etika. Adab. Itulah salah satu hal yang diajarkan Khabib.

Hal tersebut dia ajarkan ketika ketika seseorang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu.

“Kamu harus tahu, saya tidak mengizinkan seorang pun memasuki kamar saya tanpa mengetuk pintu,” bukanya.

“Tapi, pintunya terbuka,” sanggah orang itu.

“Ya, pintunya terbuka untukku, tapi tidak untukmu,” tegas khabib.

Kemudian Khabib menambahkan, “Ini adalah ruang pribadiku. Ingatlah pelajaran ini lain kali.”

Menepati Janji

Walk the talk. Berusaha menepati janji. Itulah yang terlihat sering ditunjukkan petarung asal Dagestan, Rusia, ini.

Janjinya itu pula yang membuatnya memutuskan pensiun usai menorehkan 29 kemenangan.

“Setelah apa yang terjadi dengan ayah saya (meninggal karena covid-19), ketika UFC menawarkan pertandingan melawan Justin (Gaethje), saya berbicara dengan ibu saya. Beliau sebenarnya tidak ingin saya bertarung tanpa ayah saya. Tapi, saya menjanjikan bahwa ini merupakan pertarungan terakhir saya. Saya telah memberi janji. Saya harus menepatinya,” tegasnya. 

Bersyukur

Khabib memang seorang juara. Tapi, dia tidak lantas menepuk dada. Dia menyadari sepenuhnya bahwa kemenangan demi kemenangan yang diraihnya merupakan karunia Tuhan.

“Alhamdulillah, Allah memberi saya segalanya,” katanya, usai mengalahkan Justin Gaethje di UFC 254.

Di lain kesempatan, dia mengucap “alhamdulillah” bahkan sebelum bertanding. Bisa jadi itu merupakan gambaran keyakinannya. Jadi, jiwanya telah menang terlebih dahulu, baru kemenangan fisiknya menyusul kemudian.

“Alhamdulillah, Tuhan memberi saya segalanya. Alhamdullah, besok malam saya akan menghajar jagoan kalian. Saya akan menghajar jagoan kalian,” ucapnya, usai menimbang berat badan (weigh-in) menjelang UFC 229. Ucapannya itu dia buktikan ketika menekuk Conor McGregor.

Tidak Mau Menyakiti Lawan

Sepertinya aneh. Olahraga yang mengandalkan otot, kok tidak berhasrat menyakiti lawan. Pendapat ini tentu bisa didebat. Tapi, saya sampai pada kesimpulan itu setelah melihat banyak pertandingan Khabib.

Harap dicatat, “tidak mau” itu bukan berarti “tidak bisa”. Sering terjadi, seseorang tidak mau menyakiti, tapi terpaksa melakukannya agar lawannya menyerah.

Contoh terbaru terjadi pada pertarungan melawan Justin Gaethje. Sebelum pertandingan Gaethje memberi informasi penting. Dia bilang, orang tuanya akan menyaksikan pertandingan tersebut.

Sebenarnya Khabib punya banyak cara untuk memenangkan pertandingan. Tapi, dia tidak sekadar ingin menang. Dia juga memikirkan lawannya. Dia tidak tega menyakiti lawannya di depan orang tua lawannya itu.

Dengan demikian, cara yang tersisa adalah teknik kuncian. Teknik kuncian arm bar tidak dipilih oleh Khabib karena Gaethje terkenal sebagai petarung yang tidak pernah melakukan tap out (menyerah). Jika tidak mau tap out, maka lawannya tersebut akan cedera, misalnya patah tulang. Dia tidak ingin hal itu terjadi.

Maka, Khabib memilih menggunakan teknik kuncian triangle choke untuk memperoleh kemenangan. Kenapa? Simaklah penjelasan sahabatnya Khabib, yaitu Daniel Cormier (DC). Menurut DC, sebelum bertanding Khabib berkata padanya, “Dengan teknik triangle choke, jika Gaethje pingsan, maka biarkan dia pingsan. Ketika terbangun, dia akan bangun dalam keadaan baik.”

Ya, aneh, memang. Di pertandingan mempertahankan gelar juara, kok sempat-sempatnya memikirkan lawan. Seolah-olah dia ingin memberi cara ternyaman bagi lawannya untuk kalah.

.

.

Itulah beberapa hal yang bisa kita pelajari dari Khabib Nurmagomedov. Bagaimana menurut kawan-kawan? Semoga berkenan menambahkan.

One Comment

Leave a Reply