Karier Politik Sang Teknokrat

 

*Resensi ini dimuat di Koran Jakarta, Sabtu, 14 Juli 2018

 

Bacharuddin Jusuf Habibie sebenarnya sedang menjalani hari-hari cerah di Jerman. Dia sedang menjabat sebagai wakil presiden di perusahaan industri pesawat setelah menyelesaikan seluruh strata pendidikan secara gemilang. Namun, pemerintah Indonesia memanggilnya, negara membutuhkan kontribusinya. Kecintaan pada tanah air membuatnya pulang.

 

Pencetus Teori, Faktor, dan Fungsi Habibie itu kemudian menyampaikan gagasan tentang industri strategis. Dia mengusulkan pembangunan industri pesawat sebagai ujung tombaknya. Boleh jadi, sebenarnya dia membayangkan dirinya tetap berada dalam kerangka pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, tanpa dukungan politik, tentu tidak mudah baginya menjalankan gagasannya. Dengan demikian, bersamaan dengan menempelnya predikat sebagai orang kepercayaan Soeharto, bersama itulah dia masuk ke dalam dunia politik. (hal. 26)

 

Karier putra Pare-Pare, Sulawesi Selatan, itu terus menanjak. Dia pernah menduduki beberapa posisi prestisius, seperti menteri Riset dan Teknologi, koordinator harian Dewan Pembina Golkar, ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), dan ketua Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) – yang mengayomi IPTN, PT. PAL, Perum Dahana, PT. INKA, PT. Krakatau Steel, dan PT. INTI. Etalase kerja konkretnya ditandai dengan mengudaranya pesawat N-250 “Gatotkoco” pada 1995. Pesawat itu dirancang bangun sepenuhnya oleh putra-putri Indonesia.

 

Cover buku Biografi Politik Habibie

 

Memasuki tahun 1997, karena kesehatan istrinya yang menurun, Habibie berencana pensiun dari gelanggang politik dan kembali menetap di Jerman. Namun, rencana itu tidak mendapat lampu hijau dari Soeharto. Belakang baru diketahui bahwa dia dipersiapkan untuk menjadi wakil presiden periode 1998 – 2003.

 

Namun, krisis moneter menerjang Indonesia pada 1998. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terjun ke angka Rp. 16.000. Krisis ini menggerogoti sendi-sendi kekuasaan yang dibangun semasa orde baru. Gelombang reformasi memaksa Soeharto turun tahta. Habibie resmi menjadi presiden ketiga Indonesia usai mengucap sumpah jabatan pada Kamis, 21 Mei 1998.

 

Ketika menjabat sebagai presiden, Habibie menerapkan gaya kepemimpinan sipil. (hal. 223). Dia berupaya menghindari polemik yang tidak produktif. Dia lebih suka berbuat untuk memperbaiki keadaan sebagai jawaban atas kritik dan cemoohan. (hal. 288). Hasilnya, dia berhasil menghentikan jatuh bebasnya nilai tukar rupiah menjadi Rp. 6.700 per dolar AS, menerbitkan undang-undang yang menjamin kebebasan pers (hal. 265), dan melaksanakan pemilu terbersih sejak pemilu 1955 (hal. 296).

 

Keberhasilan yang dicapai dalam 512 hari itu ternyata tidak menghindarkannya dari manuver politik. Sidang Umum MPR tahun 1999 menolak pidato pertanggungjawabannya. Karena itu, dia pun menolak untuk dicalonkan kembali menjadi presiden pada periode selanjutnya. Hal ini menandai berakhirnya perjalanan politik praktis Sang Teknokrat.

 

Habibie merupakan aset  bangsa yang unik: disemai di era Presiden Sukarno, dipanen di zaman Presiden Soeharto. Politik membawanya ke puncak kekuasaan sebagai presiden di masa transisi. Dia mampu tampil dengan karakternya sendiri saat menjalankan misi reformasi. Dia memimpin dengan gaya yang demokratis dan egaliter.

 

Dedi Setiawan

***

Data Buku

Judul                     : Biografi Politik Habibie dari Malari Sampai Reformasi

Penulis                 : R. Toto Sugiharto

Tebal                    : xii + 456 halaman

Cetakan               : 2017

Penerbit               : Media Pressindo

Harga                   : Rp. 95.000

ISBN                     : 978-979-911-604-8

Leave a Reply