Memfasilitasi Kecemburuan

Istri saya bukan pencemburu (atau saya yang tidak mengetahuinya? 😊 ). Namun pagi itu, untuk pertama kalinya selama belasan tahun, dia menyemprot saya, “Aku capek-capek gendong anak, kamu malahan enak-enakan ngobrol dengan cewek!”

Saya memilih diam, tapi kemudian memutuskan untuk menggodanya, “Kamu cemburu kepada nenek-nenek?”

Sebab cewek yang dia maksud adalah perempuan kelahiran tahun 60-an. Berarti saat ini umurnya sekitar 60 tahun. Kepada saya, perempuan Malaysia itu menyebut dirinya “makcik”.

Istri saya membalas, “Mana aku tahu itu nenek-nenek apa bukan!”

Oh, oke, berarti istri saya hanya melihat sepintas. Setelah itu, dia mengeluarkan beberapa kalimat keluhan lagi. Saya meminta maaf. Lalu suasana mencair, kami melanjutkan tur ke tempat-tempat bersejarah, foto-foto, dan happy ending.

Mungkin istri saya tidak benar-benar cemburu. Mungkin dia hanya kesal kepada saya. Namun, apapun itu, kami memang telah memutuskan untuk memfasilitasi rasa cemburu. Sejak awal kami sepakat bahwa cemburu itu boleh, legal, dan sah! Bahkan difasilitasi: boleh cemburu dengan atau tanpa alasan; boleh cemburu kepada orang yang benar-benar ada atau tidak ada; dan boleh cemburu dengan atau tanpa bukti.

Syaratnya hanya satu, TOLONG DIKOMUNIKASIKAN.

Jadi, kalau cemburu, bicaralah. Jangan diam. Segera sampaikan, segera tanyakan. Boleh sambil marah, boleh sambil curiga, boleh sambil nangis. Bebas.

Kenapa?

Karena kalau memang tidak ada “apa-apa”, tidak ada kecurangan, tidak ada perselingkuhan, maka respons kita akan lebih tenang. Orang bilang, kalau bersih, kenapa mesti risih?

Ini seperti kamu memiliki wajah ganteng, lalu orang-orang mengejek bahwa kamu jelek. Ayo pria-pria ganteng, apa kira-kira apa respons-mu? Apakah akan marah-marah? Tentu tidak. Pasti akan lebih santai.

Kalau kita lebih santai, maka kita bisa merespons dengan baik. Kita bisa menjelaskan permasalahan hingga tuntas. Dengan begitu, besar kemungkinan perseteruan dengan pasangan akan segera selesai.

Namun, kalau memang telah terjadi kecurangan –bahkan kalaupun baru niat, maka jadikan kecemburuan pasangan kita itu sebagai fasilitas untuk kembali ke jalan yang benar. Ayo, kembali kepada istri dan anak-anak. Ayo kembali sadar bahwa tempat terindah untuk pulang adalah keluarga.

Tidak usah ke mana-mana. Dalam keadaan normal, semua kebutuhan kita sebagai manusia normal sudah ada pada keluarga. Kalau merasa belum ada? Itu berarti fungsinya belum dimaksimalkan… atau jangan-jangan kita memang gak normal alias sinting!

Leave a Reply

Back to Top
%d bloggers like this: