Semakin Dekat Anak, Semakin Sehat

 

Para ayah yang memiliki hubungan baik dengan anak-anaknya jarang terserang penyakit jantung, insomnia, kelelahan, gangguan pencernaan, dan pusing. Itu hasil penelitian panjang Rosalind C. Barnett, Ph.D., peneliti di National Institute of Mental Health, Betesda, Maryland.

 

Mungkin memang begitu adanya. Ayah yang dekat dengan anaknya akan sering bergerak sehingga (harapannya) menjadi lebih sehat. Anak-anak bisa menggerakkan orang dewasa hanya melalui sentuhan ujung jari. Anak-anak punya banyak permintaan yang semuanya seolah-olah harus segera direspons, seperti “Yah, aku lapar”, “Yah, ambilin boneka”, “Yah, mau ee'”, dan “Yah, buku yang ada harimaunya.”

 

Khusus permintaan yang terakhir, baik kita langsung nyari maupun bertanya dulu, itu sama-sama butuh energi. Kalau langsung nyari, kita belum tentu tau buku yang dimaksud.

 

Kalau kita bertanya, “Buku yang ada harimaunya?”

Kemungkinan bakal dijawab, “Iya, yang ada harimaunya.”

“Yang mana?”

“Yang ada harimaunya.”

“Harimaunya?”

“Iya, yang ada harimaunya.”

 

Percaya deh, kalau terus dilanjutkan, ini bisa jadi percakapan berulang dengan intonasi yang makin tinggi.

 

Akhirnya kita tunjukkan buku yang sampul depannya harimau, macan tutul, panther, beruang, dan kucing. Hasilnya… semuanya salah.

 

“Buku yang ada harimaunya, lho,” ulang si kecil, seolah-olah kita gak tau bentuk harimau.

 

Akhirnya kita berburu harimau lagi di rak buku. Ketika ada majalah bersampul orang utan yang memuat iklan majalah edisi “harimau”, kita mencoba sedikit peruntungan, “Yang ini?”

“Iya, yang ini, kata adek juga yang ada harimaunya.”

 

Yeah, akhirnya, berkat disemangati anak umur dua tahun, ayah berhasil menjadi pemburu harimau di antara orang utan. Gimana gak sehat coba? 🙂

 

Meski ayah gak nge-gym, gak hobi lari, gak bisa main basket, ya gak masalah. Lagian, itu kan cuma di luar rumah.

 

Kalau di dalam rumah, ayah bisa menjelma menjadi Alan Budikusuma (angkatan berapa sih ini ayahnya :p) untuk main bulu tangkis, menjadi tim Malaysia (karena tim Indonesia sudah diperankan oleh Sofia) untuk bermain bola, dan jadi Merida untuk membidik target panah(-panahan).

 

Apakah begitu logikanya sehingga ayah jadi lebih sehat? Mbuh, gak tau. Tapi kalau lebih bahagia sih iya hehe.

Leave a Reply