Sentuhlah Ananda Tepat di Hatinya

Haita laka. Kemarilah engkau.

Bayangkan bahwa yang dipanggil adalah kita sebagai lelaki normal dan yang memanggil adalah perempuan yang sangat cantik. Dia yang membuat kita berdebar dengan tatapannya, lalu dengan lembut meminta kita untuk mendekat. Dia yang sinar matanya meruntuhkan separuh benteng pertahanan kita, kini mulai merayu dengan suara merdunya.

Masih belum tergoda?

Baik, bayangkan lagi bahwa perempuan itu tidak hanya cantik, tetapi juga tenar dan punya kedudukan. Perempuan muda yang kaya ini juga sangat baik dan sering memberi hadiah. Singkat cerita, dia adalah impian banyak pria.

Masih belum tergoda?

Baik, bayangkan lagi perempuan itu kini tidak malu-malu lagi. Dia to the point: meminta untuk dilayani. Sangat menggairahkan. Oh, khawatir dicurigai orang lain? Tidak usah khawatir, kita memang sudah sejak lama tinggal di rumah besarnya dan sudah dianggap sebagai keluarga. Takut dilihat orang lain? Tenang saja, pintu kamar sudah dikunci rapat. Takut tidak bisa memuaskannya? Kita sedang berada di usia prima, fisik sedang bagus-bagusnya, dan wajah sedang tampan-tampannya!

Bagaimana?

Jangankan ujian di dunia nyata, baru di imajinasi saja rasanya kita hampir pasti gagal melalui ujian itu.

Namun, ujian seperti itu aslinya memang bukan cerita rekaan. Nabi Yusuf pernah mengalaminya. Berbeda dengan kita yang rasanya hampir pasti gagal sejak dalam imajinasi, Nabi Yusuf berhasil lulus dari ujian itu dalam kehidupan nyata.

Bagaimana cara Allah menyelamatkan Nabi Yusuf?

Saat Nabi Yusuf mulai tergoda, tiba-tiba di benaknya muncul wajah ayahnya. Ayahnya Nabi Yusuf adalah nabi juga, yaitu Nabi Yaqub. Seolah saat itu Nabi Yaqub berkata: Yusuf, Yusuf, akankah kau lakukan perbuatan keji ini, sedang namamu akan tercatat dalam deretan para nabi yang mulia? Yusuf, Yusuf, ingatlah sesungguhnya engkau bin Yaqub ‘Alaihissalam, bin Ishaq ‘Alaihissalam, bin Ibrahim khalilurrahman. Akankah kau menodai garis keturunanmu yang mulia ini?

Dari situ Nabi Yusuf tersadar. Dia menolak godaan perempuan cantik yang merayunya. Dia berlari dari kamar untuk kemudian dijebloskan ke dalam penjara. Pilihan yang tidak mudah, memang. Namun, dari situ kita melihat kesadaran untuk memenangkan komitmen di atas goda.

Dari situ juga kita yang punya predikat sebagai ayah rasanya tidak berlebihan jika merasa “iri”. Bayangkan, dahsyat banget pengaruh Nabi Yaqub kepada Nabi Yusuf. Dalam keadaan terdesak dan hampir tergelincir di jurang nista, dalam benak Nabi Yusuf muncul wajah ayah yang menasihatinya.

Kalau dibawa ke zaman sekarang, itu ibarat anak ditawari narkoba, lalu dia bilang, “Gak ah, gak boleh kata bokap gue!”. Ditawari rokok, si anak bilang, “Gak boleh kata papa saya.” Ditawari mabok, si anak kekeuh bilang, “Gak boleh kata ayah aku!”

Membayangkannya betapa penting arti diri kita bagi seorang anak saja sudah membuat kita terharu. Membayangkan saja sudah membuat senang, apalagi jika menjadi kenyataaan. Ayah mana sih yang gak mau seperti itu?

Untuk itu, jalinan hati antara anak dan ayah harus terjalin sejak dini. Connection before correction. At-ta’lif qobla ta’rif. Mengikat hati sebelum menasehati. Sentuhlah Ananda tepat di hatinya.

Itulah salah satu kunci suksesnya parenting yang disampaikan oleh Ustadz Bendri Jaisyurrahman, pada Selasa, 8 Februari 2022, di ruang Zoom. Acara ini diselenggarakan oleh Penerbit Gema Insani Kids. Acara ini sendiri bertajuk “Dahsyatnya Story Telling untuk Penguatan Aqidah Anak”.

Cara untuk mengingat hati sejak dini adalah dengan banyak bercerita dan banyak ngobrol. Ini juga dikenal dengan istilah bridge communication (komunikasi jembatan). Komunikasi ini membungkus pesan dengan kisah. Nasihat disampaikan melalui tamsil. Tujuannya supaya orang yang mendengarkannya bisa merasa terhubung dengan kisah tersebut. “Relate banget!” kata remaja ayeuna.

Ini juga yang dicontohkan melalui Al-Quran. Misalnya, di fase-fase awal perjuangan Rasulullah, di fase Mekah, ayat-ayat yang turun biasanya mengandung cerita. Jadi, kisah-kisah diungkap terlebih dahulu, baru kemudian turun ayat-ayat yang berkenaan dengan hukum.

Maka tahap selanjutnya, jika hati anak sudah terikat dengan kita, barulah kita bisa menerapkan castle communication (komunikasi benteng). Komunikasi jenis ini sifatnya to the point, langsung ke inti. Pesannya harus jelas.

Misalnya, seperti ketika Luqman menasehati anaknya. Pesannya jelas: la tusyrik billah. Jangan syirik!

Ini juga seperti yang dilakukan oleh Rasululllah. Setelah menyentuh hati para sahabat, baru kemudian menjelaskan hukum-hukum yang berlaku dalam Islam. Karena itulah para sahabat langsung tunduk terhadap ajaran Rasulullah. Secara umum, orang-orang memang mudah dinasehati ketika hatinya sudah terkoneksi.

Jadi, penting bagi kita untuk menjalankan dua gaya komunikasi itu, terutama kepada anak. Bercerita itu bagus, menyampaikan pesan yang jelas itu harus. Padukan keduanya, jangan sampai menyepelekan salah satunya.

Leave a Reply