Si Kecil Belum Mandi dan Drama yang Mengikutinya

Suatu pagi yang menyenangkan. Akhir pekan yang tenang. Cuaca sedikit mendung, sepertinya hari akan hujan. Saya memilih untuk tetap di tempat tidur – setidaknya tidur-tiduran, bonus kalau kemudian menjadi tidur sungguhan.

Keputusan itu tidak sepenuhnya lancar. Dari dapur, atau entah dari mana, terdengar nyonyah berkata,” Wah, sudah jam segini, Hasan belum mandi.”

Suaranya tidak terlalu kuat, tapi sepertinya memang sengaja dibikin supaya saya mendengarnya. Sambil tetap di bawah selimut saya memikirkan kalimat tersebut:

Apa salahnya kalau Hasan belum mandi? Usianya baru beberapa bulan, kenapa mesti mandi pagi? Memangnya dia sudah main secara berlebihan sehingga harus mandi? kalau memang mandi itu penting, kenapa tidak dimandikan saja?

Hehe, begitulah respons standar saya. Sederhananya saya berpikir, kalau memang butuh bantuan, kenapa tidak langsung meminta? Kalau mau langsung mengerjakan, kenapa mesti berisik?

Terlalu banyak pertanyaan yang muncul sampai-sampai saya memutuskan untuk bangun. Tidur-tiduran menjadi tidak enak lagi. Lebih dari itu, jauh di dalam hati, saya tahu bahwa nyonyah sedang mengharapkan bantuan. Jelas, baginya, mandi pagi itu penting –bagi saya, tidak.

Saya kemudian memandikan Hasan. Ini pekerjaan yang memang menyenangkan. Saya suka air, Hasan juga terlihat nyaman dengan air.

Selain itu, setelah berkali-kali memandikan Hasan, saya jadi lebih percaya diri mengerjakannya. Dulu saya begitu takut melakukannya. Takut Si Kecil keseleo, takut jatuh, takut tidak bersih, dan seterusnya. Harap dicatat: Takut, bukan malas! Namun, itu dulu. Saat ini, ssttt, sejujurnya, saya menganggap bahwa saya lebih baik dalam hal ini daripada nyonyah! (Haha, dasar lelaki!)

Kenyataan ini sejalan dengan yang dituliskan Raksha Bharadia dalam Roots and Wings:

Ibu tidak secara ajaib tahu lebih banyak daripada ayah. Mereka belajar sambil melakukannya. Jika terlibat, ayah juga akan menjadi lebih baik dengan sendirinya.

Saya juga merasa beruntung mendapat contoh serupa dari ayah. Saya mendengar cerita bahwa beliau turun tangan memandikan, menyuapi, dan mengganti popok kakak saya ketika masih bayi. Cerita ini membuat saya merasa lebih mudah untuk melakukan hal serupa.

Oiya, omong-omong soal nyonyah meminta bantuan, sekarang caranya sudah lebih bervariasi. Dulu seperti orang ngedumel –padahal bukan seperti, tapi memang! Haha.

Sekarang, nyonyah bisa lebih to-the-point, “Yah, mandiin Hasan ya.” Ini jauh lebih menyenangkan daripada cara sebelumnya. Bahkan, nyonyah sekarang lebih diplomatis dengan meluncurkan pertanyaan retoris, “Yah, kamu mau mandiin Hasan gak?”

Ya, masa mau dijawab dengan “enggak”? Bisa pecah perang dunia haha. Bisaan nih nyonyah!

Leave a Reply